Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
Cerpen berjudul Cerita Hati (Ungkapan Tentang Perasaan) ini adalah cerpen terbaru karya Deny Fadjar Suryaman, dan merupakan sekuel dari cerpen sebelumnya Cerita Hati (Ketika Hati Tak Mampu Mengungkapkan).

Fajar di ufuk barat telah menampilkan sinarnya, lalu masuk melalui celah-celah gorden menembusnya hingga mampu menusuk kulit Aini yang sedang terlelap dalam tidurnya. Kicau dari sang gereja kecil pun terdengar manyapa di pagi nan indah ini, yang memadukan suara keramaian pagi menjadi suara melodi yang harmonis. Sinar di pagi ini cukup terik menyapa, menerbangkan tetesan embun yang menempel di dedaunan yang menghiasi ranting-ranting pohon. Aini pun terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi hanya untuk sekedar membasuh mukanya yang kusam. Lalu dia pun melangkahkan kakinya keluar rumah menuju tempat di mana Rian biasa menyendiri. Yah, sebuah tempat di mana terhampar luas padang rumput yang indah yang mampu menyegarkan mata siapa pun yang memendangnya. Suasana di luar rumah sedikit sejuk namun cukup membuat tubuh menjadi beku, dengan balutan terik sinar mentari pagi yang sedikit memberi kehangatan pada tubuh Aini. Dia pun berjalan menuju tempat itu dalam keramaian pagi. Dalam balutan keheningan dalam dirinya yang enggan terlibat dalam keramaian pagi. Dia hanya melontarkan senyum yang terpancar dari wajahnya yang cantik. Dan dia pun tetap melangkahkan kakinya ke tempat tujuannya semula.

Tepat di sudut tempat tinggalnya yang berada di daerah yang di kelilingi oleh pegunungan yang masih asri, dia pun sampai pada tempat tujuannya. Dengan balutan pakaian mantelnya yang membungkus tubuhnya yang beku. Yah, walau mentari bersinar cukup terik, namun suasana di tempatnya memang sangat dingin, karena berada di daerah perbukitan yang berselimutkan kabut yang menghiasinya.

Sudah hampir dua minggu dia sering mengunjungi tempat ini, yah lebih tepatnya semenjak kepergian Rian untuk menghadap sang tuhan. Dia sadar jika sebenarnya Rian sangat sayang dan cinta kepadanya, hanya karna dia takut meninggalkan drinya di saat yang tak tepat yang membuat Rian urung mengungkapkan isi hatinya kepada dirinya. Sangat di sayangkan, karna sesungguhnya dia berharap Rian bisa mengatakannya kapada dirinya, karna memang sesungguhnya dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Rian. Di tempat itu Aini biasa duduk mengenang saat dia masih sering mengunjungi tempat itu dengan Rian. Dia masih belum bisa menerima kenapa Rian harus meninggalkan dia dengan begitu cepat, padahal pertemanan dia pun belum begitu lama terjalin. Aini selalu mendesah dalam hatinya, ‘seandainya saja aku yang bisa mengatakannya terlebih dahulu, mungkin ada sedikit kenangan yang hadir ketika rasa cintanya bisa bersatu’. Namun itu hanya sebuah angan-angan kosong yang ada dalam khayalannya belakangan ini, dan hal itu juga yang sampai saat ini membuat Aini sering mengunjungi tempat itu. Belakanga dia pun sering melakukan hal yang sama yang dilakukan Rian di tempat itu, dia jadi sering menuangkan apa yang ada di hati dan perasaannya dalam sebuah tulisan dalam buku harian, dia jadi sering membuat puisi atau hanya sekedar menceritakan apa yang sedang dia rasakan dalam hati dan perasaannya. Buku harian itu selalu dia bawa ketika dia datang ke tempat itu, dan selalu menjadi teman yang setia menemain dia duduk di hamparan rumput yang seolah menjadi karpet tempatnya berbaring. Di sana dia sangat merasakan keheningan, karna yang terdengar hanyalah hembusan angin yang menggerakkan ranting-ranting pepohonan hingga menghasilkan suara yang terdengar di telinga. Itu yang selalu di kenangnya, karna Rian datang ke tempat itu karna alasan yang sama seperti apa yang sedang Aini rasakan saat dia berada di tempat itu.

Pagi itu dia merangkai sebuah puisi yang menggambarkan suasana di pagi itu. Puisi yang mampu membuatnya tersenyum karna tak menyangka dia mampu merangkai kata-kata indah dalam sebuah tulisan. Puisi yang terlihat sederhana, dengan pemilihan kata-kata yang simple namun mudah di mengerti olehnya sendiri. Puisi yang memiliki makna berharga bagi dirinya.

“fajar di ufuk timur langit”

Fajar di ufuk timur menyapa
Tampilkan pesona jingga nan elok dan ceria
Bercampur dengan derai hembusan angin
Dan kicau dari sang gereja kecil
Kehadirannya mampu mengusir pilu di hati
Hadirkan ceria di pagi nan mempesona
Tunjukan keindahan lukisan langit
Yang tergores dalam lembaran angkasa
Dingin menerpa lembaran ari
Yang menusuk hingga kedalam hati
Kehadirannya pencarkan kehangatan cinta
Yang memekarkan bunga-bunga dalam jiwa

Itu sebuah puisi yang dia rangkai dalam buku hariannya pagi itu. Sekarang jam di tangannya sudah menunjukan pukul setengah delapan, sudah waktunya dia kembali menuju rumahnya untuk bersiap-siap berangkat kuliah. Semenjak lulus SMA dia melanjutkan kuliahnya di universitas negeri terkenal di dekat rumah tempat tinggalnya. Dia kuliah di jurusan psikologi, sudah sejak sekolah dulu dia bercita-cita kuliah jurusan psikologi. Karna keinginannya yang ingin menjadi psikolog.

Jam kuliahnya baru akan di mulai pukul 09.00 pagi ini, namun dia sudah tiba di kampus setengah jam sebelum jam kuliah di mulai. Itu karna dia ingin membereskan sedikit tugas kuliahnya yang dikerjakannya semalam yang masih sedikit berantakan.

***
Tepat pukul empat sore Aini menyesaikan perkuliahnya yang lumayan cukup padat hari ini. Dia pun keluar dari ruang kelasnya dan menyusuri lorong kampus menuju halaman depan kampus. Di sana sudah menunggu teman dekatnya yang bernama dhila. Yah, Aini memang biasa pulang kuliah bersama teman dekatnya yang satu itu. Selain karna dhila adalah teman dekatnya Aini dia juga salah satu dari teman dekat Rian.

“Hay dhil”. Aini menyapa teman’y yang sedang duduk sambil melamun.
“i..iya”. jawab singkat dhila yang merasa kaget. “ah, kamu Aini, mengagetkan aku saja”. Sambungnya lagi.
“hehehhee..maaf-maaf”
“oia, sekarag kamu mau ke tempat Rian biasa menghabiskan waktu atau mau langsung pulang”. Lanjut dhila
“iya, soalnya kalau aku ke sana hati tuh tenang”.ungkap Aini
“ah, kamu gak ada bosennya yah pergi ke sana setiap pagi dan sore”
“aku ikut yah? Ada yang ingin aku kasih liat ke kamu”
“apa”. Tanya Aini penasaran.
“nanti saja di sana”

Aini dan dhila pun meninggalkan kampus dan pergi ke tempat Rian biasa menghabiskan waktunya.

***
Dhila memang selalu menemani Aini pergi ke tempat itu jika dia sedang ada waktu, karna dia tahu betapa masih tidak percayanya Aini atas kepergian Rian. Dhila memang teman yang tahu tentang apa yang menjadi rahasia dari Rian, baik tentang perasaannya kepada Aini, tentang penyakitnya, bahkan tentang hal-hal kecil sekali pun. Karna dhila sudah berteman dengan Rian sejak dia duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Sesampainya di tempat itu Aini seperti biasanya dia duduk di hamparan rumput yang menjadi alasnya. Dengan lamunannya yang tenang dia pun menatap langit senja yang mulai menampakan keindahanya yang begitu mempesona. Dari tempatnya dudk memang tepat mengarah ke barat di mana tempat matahari tebenam dan menampakkan jingganya yang melukis langit sore. Aini dan dhila hanya hening duduk di tempat itu sambil menikmati keindahan suasana saat itu. Aini yang hening termenung karna memikirkan Rian yang slalu ada dalam fikirannya, dan dhila yang hening karna dia merasa aneh pada Aini yang terlalu terlarut pada Rian yang sudah tiada.

“aku sudah tebak kamu cuma diam-diam saja di sini, paling sesekali cuma menggoreskan bolpoin kamu di buku harianmu. Entah apa yang kamu tulis di situ, aku saja gak tau.” Dhila memulai untuk pembicaraan.
“aku gak tau dhil kenapa aku masih terlarut mikirin Rian”, keluh Aini.
“mungkin kamu hanya kaget saja Aini, karna kamu baru tau kalau ternyata Rian punya penyakit itu. Maaf sebelumnya karna aku gak kasih tau kamu semenjak aku tau. Rian yang minta aku tutup mulut tentang masalah ini”.
“yah gak apa-apa kok. Aku cuma sedikit gak percaya kanapa dia tidak berani mengungkapkan perasaannya sama aku. Apa karna dia cuma sayang sesaat atau seperti apa aku gak tau. Yang aku tau dari sikapnya dia sangat perhatian dan baik sama aku. Itu yang aku kira jika dia suka sama aku”. Jelas Aini.
“ada banyak hal yang gak kamu tau tentang Rian, Aini”. Jawab dhila.
“emang apa yang kamu tau tentang Rian??”. Tanya Aini.
“mungkin aku gak tau banyak tentang Rian, tapi yang aku tau pasti kalau dia emang benar-benar sayang sama kamu. Dan rasa sayangnya itu sering dia ceritakan kepadaku”. Dhila mencoba menjelaskan apa yang dia tau tentang Rian.
“tapi kenapa dia gak pernah mau bilang ke aku??”
“yah kalau itu aku sendiri gak tau, tapi dia menitipkan buku yang slalu dia bawa kemana pun dia pergi dan memintaku untuk memberikannya kepadamu. Mungkin di situ ada jawaban atas pertanyaanmu yang tadi. Dan hal itu juga yang ingin aku sampaikan kepada kamu ketika di kampus. Maaf karna aku baru bisa menyampaikannya kepadamu sekarang karna mungkin sekarang saatnya aku kasih ke kamu.” Terang dhila sambil mengambil buku yang di titipkan Rian di dalam tasnya.

Aini pun terdiam sambil mengambil buku yang di sodorkan dhila kepadanya. Dia mencoba memandangi kata demi kata yang tertulis di buku itu. Banyak tulisan yang tergores dalam buku yang selalu Rian bawa bahkan telah menjadi temannya yang paling setia menemani hidupnya sampai dia pergi meninggalkan orang-orang yang dia sayangi. Di dalam buku itu banyak puisi-puisi yang di buat oleh Rian, selain puisi-puisi juga di dalam buku itu terdapat tulisan-tulisan Rian yang menceritakan perasaan dan hatinya, tentang perasaan sayangnya kepada Aini, kedua orang tuanya, dan sahabat-sahabat dekatnya. Namun sontak Aini tercengah ketika melihat catatan di halaman terakhir yang di tulis Rian dalam buku tersebut. Di situ tertulis ‘dear Aini’. Dan matanya pun mulai membaca dengan penuh teliti dan serius.

‘Dear Aini

Bisu ketika ku memandangmu
Diam tanpa mampu ungkapkan sepatah kata
Karna terhipnotis oleh kecantikanmu
Yang membekukan hati dan jiwa

Terlukis indah pelangi di sudut mata
Yang mewarnai indahnya pesona wajahmu
Bagaikan replica kecantikan sag Cleopatra
Yang mampu menghipnotis diriku

Tak mampuku merangkai puisi
Memecahkan khayalan dan inspirasiku
Menerbangkannya jauh bersama angin
Yng tak mampu untuk aku gapai

Aini, mungkin itu yang bisa aku gambarkan tetangmu dimataku. Sebuah rangkaian puisi yang aku goreskan ketika rasa sayang ini mulai meracuni hatiku. Entah apa yang membuatmu menarik di mataku, namun bersamamu aku merasa tenang. Hati ini terasa damai saat berada dekat denganmu. Namun jiwa ini tak mampu untuk memilikimu dan bibir ini tak mampu ungkapkan apa yang ku rasakan. Aku terlalu takut akan kesedihan, aku takut jika aku meninggalkan semuanya, ada kesedihan yang hadir dalam hidupmu, dan itu tak ingin terjadi. Dalam goresan ini aku ingin sampaikan perasaanku ketika hati tak mampu mengungkapkan, ketika bibir ini membisu, ketika isyarat suit di artikan, dan sikap tak bisa menunjukan, mungkin hanya bisa tertanam dalam di hati ini. Kini aku tak tau apa yang harus ku lakukan untuk semua itu. Yang aku bisa lakukan hanya menggerakkan tangan ini untuk menggoreskan kata demi kata sebagai pelampiasan perasaan yang tak mampu ku ungkapkan. Seuntai baris puisi terakhirku untukmu yang ku persembahkan “hanya untukmu”.

Berlariku dalam lorong hatiku
Mencoba untuk mencari senyum itu
Senyum yang mampu menghangatkan hati
Dalam balutan cahaya lentera hati

Sejenak berhenti, hanya untuk memikirkanmu
Menghitung setiap detik yang terlewatkan
Yang hilang terbawa debu pasir yang terbang
Merangkai kembali senyum yang mulai hilang

Lelah letih ku hanya untukmu
Dalam sandaran senyum dan luka
Desah nafas yang terbang berhembus
Melapaskan semua isi hati yang tertunda

Itu goresan terakhir yang Rian tulis di halaman terakhir dalam buku yang telah menjadi teman hidupnya. Akhinya Aini pun terbangun dari masa lalunya tentang Rian dan hanya bisa mendesah saat menatap lembar kosong di buku hariannya Rian. "tak ada secercah harapan untuk mengenang masa lalu, yang aku ingin lanjutkan dalam hidup ini".
The End


Fb : denyfajarsuryaman@rocketmail.com
Twitter : @denyfadjar
Denyfadjarsuryaman.blogspot.com
“SAAT TERAKHIR”
Cerpen Cinta Remaja
Cerpen Cinta Remaja
               “Callista...!!!! cepetan dong... kita udah telat nih..”. Teriak Clarissa.
               “Iya-iya,, bentar.. ini juga udah mau selesai kok..” Jawab seorang gadis yang dipanggil Callista itu. Callista segera berlari menghampiri sahabatnya,Clarissa yang udah mulai marah-marah.
               Yupz, hari ini adalah hari pertama Callista untuk masuk di sekolah barunya, SMAN 1 Bandung. Sekaligus hari pertamanya untuk memulai kehidupan baru, Persahabatan baru, dan Cinta yang baru,, (Ups,, Cinta..?? Gak salah,,?? \(^_^)/ ).
               “Iiiihhh.. gara-gara kamu nih kita jadi terlambat masuk sekolah..” Kata Clarissa kesal.
               “Kok Aku sih,, jangan nyalahin aku dong, ini semua itu gara-gara Kak Evan yang tadi mandinya lama banget, udah tahu aku kesiangan, tetep aja nggak mau cepetan...” Balas Callista tak mau kalah.
               “Ya udah lah, gitu aja kok diributin sih, tuh lihat,, masih belum ada gurunya kan.. ya udah yuk masuk aja..” Kata Callista lagi setelah dia dan Clarissa sampai di depan kelas.
               Callista pun langsung masuk ke dalam kelas dan nggak lagi ngurusin Clarissa yang wajahnya udah panas dan memerah.
               Saat mau duduk di bangku depan, tiba-tiba seorang cowok berkata, “Kamu anak baru kan..?? kenalin dulu diri kamu didepan, baru kamu duduk..”. Sesaat Callista terdiam dan memandang ke arahnya, “Nih cowok siapa sih,,?? Seenaknya aja nyuruh-nyuruh orang,, emang dia pikir dia siapa coba..” Batin Callista dalam hati.
               “Oke,,oke.. Perkenalkan semuanya, nama aku Callista Evrita, panggil aja Callista, aku dari SMPN 2 Bandung..” Katanya lantang. Semua pun terdiam dan cowok itu kembali menghampirinya,
               “Mmm,, Kenalin, aku Alvino El Sebastian, panggil aja aku Vino, aku ketua kelas disini, aku dari SMPN 5 Bandung. Satu lagi, welcome di kelas kita, X-A..”. Katanya sambil menyalami tangan Callista dan tersenyum.
               “Ooh, jadi dia ketua kelas disini, pantes aja dia nyuruh-nyuruh aku seenaknya kayak gitu, ternyata dia yang berkuasa disini..” Batin Callista lagi.
               “Oke,, thanks..” Jawab Callista singkat.
               Pelajaran pun dimulai dan berlalu dengan sangat cepat. Callista mulai mengenal satu-persatu teman ceweknya dan sebagian dari teman cowoknya. Saat pulang sekolah, tiba-tiba seorang cowok lewat dengan terburu-buru dan tak sengaja menabrak Callista hingga Hp di tangannya terjatuh, dia langsung refleks berteriak,
               “Aaarrrggghhhh,,, kamu kalo jalan lihat-lihat dong,, tuh Hp ku jadi jatuh kan.. rusak dah..!!! Hhhh..” Bentak Callista marah. Yang dimarahin pun diam aja dan hanya berkata “Maaf..”
               “Heh,, Hp aku itu rusak gara-gara kamu,, dan kamu hanya bilang maaf.. tanggung jawab dong..!!” Kata Callista lemes sambil mandangin Hp-nya yang barusan terbanting.
               “Sorry, ya udah sini aku benerin,,” Katanya sambil mengambil Hp dari tangan Callista.
               Akhirnya Callista memutuskan untuk menunggu cowok itu mereparasi Hpnya yang terjatuh tadi. Sempat Callista memandangnya sesaat dan dia baru menyadari kalau cowok ini lumayan tampan dan manis, tampangnya seperti indo alias blaster, Sejenak mereka diam membisu dan tiba-tiba cowok itu berkata,
               “Oh ya, kita dari tadi diam terus sampai lupa nggak kenalan, kenalin aku Nathan Allesio, panggil aja aku Nathan..”
               “Emmm,, aku Callista.. Oh ya, kamu itu asli mana sih..?? kok tampang kamu tampang2 indo gitu..” Tanya Callista ingin tahu.
               “Ooh,, aku asli Indonesia kok, tapi orang tua aku emang blasteran Italia-Jawa..” Jawabnya.
               “Oh gitu,,” Kata Callista sambil manggut-manggut.
               “Yupz,, eh udah selesai nih,, coba nyalain dulu,, bisa gak??..” Tanya Nathan sambil memberikan Hpnya pada Callista.
               “Mmmm,, tunggu,tunggu,, oh iya udah bisa kok,, makasih ya,, dan maaf aku tadi bentak-bentak kamu..” Kata Callista.
              “Iya deh, ya udah aku balik dulu ya,, udah sore banget nih,, see you..” Kata Nathan lagi sambil berlalu.
               Callista hanya mengangguk dan memandangi Nathan membereskan buku-bukunya. Tiba-tiba dia mengerlingkan mata ke Callista dan tersenyum padanya,, Oh god,, seakan ada sengatan listrik yang menyengat dan menjalar ke seluruh tubuh Callista. Callista refleks menundukkan kepala, dan Nathan pun pergi meninggalkannya sendiri di kelas itu.

***
               Callista sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi padanya tadi, tapi harus dia akui bahwa sampai saat ini dia masih merasakan sengatan itu dan merasakan keanehan dalam dirinya. Bahkan sampai dia kembali ke rumah pun dia masih tak bisa melupakan kejadian itu. Sejujurnya, sampai saat ini Callista tak pernah merasakan sesuatu yang menurutnya sedahsyat itu, setiap kali ada cowok yang memandangnya seperti itu apalagi tersenyum padanya. Tapi kenapa cowok itu lain,?? Callista sungguh tak mengerti,,. Dan harus dia akui juga bahwa kejadian itu cukup membuatnya terjaga sepanjang malam, walau dia coba untuk memejamkan mata, tapi terlalu sulit untuknya bisa tidur malam itu. Dan alhasil, pagi harinya Callista ngantuk berat, bahkan ketika di sekolah pun dia di hukum sama Bu Sindy – guru paling killer seantero sekolah – gara-gara Callista ketiduran di kelas saat jam pelajarannya. Hari ini Callista ngerasa sial banget, dan semua itu terjadi karena 1 hal yang menurutnya nggak penting banget tapi cukup bisa buat dia galau dan sial kayak gini. Ketika lagi serius berpikir tiba-tiba cowok itu datang, tak lain dan tak bukan adalah Nathan, cowok yang bikin Callista sial dan galau seharian ini.
               Callista pun langsung pergi dan nggak lagi ngurusin Nathan yang terheran-heran ngelihat sikapnya yang jutek ke dia. Gimana Callista nggak kesel,, kemarin dia udah bikin Callista salah tingkah dan nggak bisa tidur semalaman, salah siapa dong kalo udah kayak gitu,, Nah loh..?? -___-“
               Akhirnya kantin sekolah menjadi tempat pelarian Callista untuk menjauh dari Nathan. Sampai disana Callista langsung memesan makan untuk sekedar mengisi perutnya yang sejak pagi udah keroncongan. Saat lagi menikmati bakso yang dia pesan, tiba-tiba Nathan datang menghampirinya dan langsung duduk di sampingnya. “Nih anak maunya apaan sih dari tadi ngikutin Aku aja..” Batin Callista dalam hati.
               “Hai Callist..” Sapa Nathan sambil senyum-senyum sendiri.
               “Apa..?? kamu mau aku siram es degan ini..??” Ancam Callista sambil mengangkat gelas es nya tinggi-tinggi.
               “Eit,,eit,, jangan marah dulu dong,, Aku datang kesini baik-baik tau..” Kata Nathan.
               “Terus kamu maunya apa..??” Kata Callista agak sedikit kesal.
               “Mmmm,,, traktir aku dong,, lagi kanker nih,, alias kantong kering..” Kata Nathan memelas.
               “APA...????!!! emang siapa loe siapa gue..!!! Seenaknya aja minta traktir.. Nggak!!!” Jawab Callista menolak.
               “Yah Callista,,, Pelit amat sih.. Ayolah...” Kata Nathan memohon-mohon.
               “Duh, orang ini apa-apaan sih,, datang tiba-tiba, minta traktir lagi,, emang dia pikir dia siapa coba,, orang baru kenal juga kemarin...” Pikirnya dalam hati.
               “Ya udah, pesen sana,, ntar aku bayarin..” Kata Callista akhirnya.
               “Aaaaahhhh... bener..?? Ya ampun kamu baik banget deh Callista,, makasih ya...” Kata Nathan sok manis.
               “Udah sana cepet,, ntar aku berubah pikiran nih...” Kata Callista kesal.
               Sejak itu, Callista dan Nathan menjadi semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dan karena itulah Nathan jadi sering ngasih perhatian pada Callista. Kedekatannya dengan Nathan membuat banyak cewek di sekolah iri, terutama kakak kelasnya. Callista pun membicarakan hal ini pada Nathan.
               “Nathan,, Aku pengen kamu bilang ke mereka kalau diantara kita gak ada apa-apa, dan Aku minta kamu juga jangan terlalu dekat dengan aku lagi,,” Kata Callista padanya.
               “Apa..??? Nggak,, Aku nggak mau,,” Kata Nathan menolak.
               “Lho Kenapa..?? Kita tetap berteman, kita tetap deket, tapi nggak seperti dulu lagi, ini semua demi kebaikan kita berdua Nathan,,,” Kata Callista menjelaskan.
               “Kamu tanya kenapa..?? Aku itu sayang sama kamu Callista,, Aku cinta sama kamu,, dan Aku nggak bisa jauh dari kamu,, Apa kamu nggak bisa ngerasain itu semua??!!” Kata Nathan lagi.
               “Haaaahhh,,????“ Kata Callista tak percaya.
               “Maaf Callista, Aku nggak bermaksud buat kamu terkejut kayak gini, tapi kamu emang harus tahu perasaanku yang sebenarnya, Aku sayang sama kamu, Aku cinta sama kamu, sejak pertama kali kita bertemu,,” Kata Nathan menjelaskan.
               “Kamu beneran sayang sama aku??” Tanya Callista ragu.
               “Iya Callist, Aku sayang kamu tulus dari hatiku, kamu masih nggak percaya??” Kata Nathan meyakinkan.
               “Aku percaya kok, Emang sejak kapan kamu suka aku???” Tanya Callista.
               “Sejak pertama kali kamu masuk kelas, Aku udah ngerasain sesuatu yang aneh, yang gak pernah Aku rasain sebelumnya, waktu pertama kali kita kenal gara-gara tragedi Hp itu, Aku semakin mengagumi kamu, dan setelah kita deket, menjalani hari-hari bersama, Aku semakin yakin kalau yang aku rasain itu bukan sekedar rasa sayang sebagai sahabat, tetapi lebih dari itu,,” Jawab Nathan.
               Callista terdiam, Nathan pun kembali bertanya,
               “Oh ya, terus gimana? Kamu mau gak jadi pacar aku??” Tanya Nathan mengagetkannya.
               “M,,em, gimana ya? Gini deh, aku kan suka banget sama bunga mawar, kalau kelopak bunga mawarku udah lepas semua, aku akan berikan jawabannya,,” Kata Callista menjelaskan.
               “Oke, Aku setuju,,,” Jawab Nathan sambil tersenyum tipis.
               “Makasih ya Nathan, kamu udah ngertiin Aku,,” Kata Callista lagi sambil tersenyum.

***
               Sudah 1 Minggu berlalu, hubungan Callista dengan Nathan malah semakin dekat, janji yang dikatakan Nathan padanya untuk membuatnya yakin akan perasaan Nathan dan membuatnya bisa mencintai Nathan ternyata benar-benar Nathan lakukan. Nathan selalu berusaha membuatnya bahagia, tertawa, dan tersenyum setiap saat. Nathan selalu menghiburnya disaat dia sedih, dan selalu menemaninya disaat dia butuh seseorang disampingnya. Dan perlahan Callista pun mulai menyadari bahwa dia juga menyayanginya dan mencintainya lebih dari seorang sahabat.
               Pagi ini suasana kelas masih sepi, hanya ada 5 orang yang ada di dalam kelas ketika Callista sampai disana. Tapi tak berselang kemudian, Callista melihat banyak sekali murid yang berkerumun di depan ruang guru. Apalagi dari semua murid yang berkerumun itu adalah cewek-cewek di sekolah ini. Callista sangat heran, karena hal yang seperti itu jarang terjadi disini. Callista pun menanyakan hal itu pada Vino, sang ketua kelas.
               “Eh Vino, ada apaan sih disana?? Kok rame banget,,,” Tanyanya.
               “Ooh itu,,, ada murid baru, pindahan dari Jakarta,,” Jawab Vino.
               “Ooohh,, kayak nggak ada kerjaan banget sih mereka, emang murid baru itu cowok apa cewek sih??” Tanyanya lagi.
               “Cowok lah, kalo nggak salah sih namanya Ryan,,” Jawab Vino lagi.
               “Ooh,, Ryan,,. Haaaaahhhh??? Ryan????” Kata Callista kaget. Dia baru menyadari kalau nama itu sangat familiar baginya.
               “Iya, kenapa emang?? Kamu kenal??” Tanya Vino.
               “Oo, Ee, Nggak kok, Aku nggak kenal, Aku cuma kaget aja, kayaknya namanya familiar gitu,,” Kata Callista gugup.
               “Oh ya, Nathan mana?? Tumben banget jam segini belum nyampek kelas,,” Tanya Callista lagi.
Tiba-tiba Nathan datang , “Aku disiniiiiii,.,,.,.,.,.,.,” Teriaknya.
               “Nah tuh udah datang, eh than, nih Callista dari tadi cariin kamu,,” Kata Vino pada Nathan.
               “Apaan sih kamu Vin,, siapa juga yang cariin dia,,” Kata Callista mengelak, sumpah malu banget.
               “Mmm,, pake’ ngeles lagi, udah jelas-jelas tadi kamu nanyain keberadaan dia,,” Kata Vino memojokkan. Wajah Callista udah merah banget karena malu.
               “Udah,udah,., gitu aja kok diributin sih, yang dikangenin loe biasa aja,.,” Kata Nathan kepedean.
               “Iiiihhhh,., pede banget sih jadi orang,, plis deh,.,” kata Callista sambil ketawa.
               “Hahahaha biarin, kalo nggak pede, garing dong,,” Kata Nathan. Sejenak mereka terdiam dan berpandang-pandangan. Callista, Nathan dan Vino refleks ketawa bareng. Dan saking serunya bercanda, mereka nggak nyadar kalo kelas udah mulai rame. Tiba-tiba Bu Tari, Wali Kelas mereka masuk kelas dengan ditemani oleh seorang cowok yang wajahnya nggak asing lagi buat Callista.
               “Oh God,, Ryan??? Apa ini mimpi?? Kenapa dia disini??” Batinnya. Callista mulai cemas. Badannya berkeringat, dingin.
               “Ehm, anak-anak,, minta perhatiannya sebentar,, ada murid baru di sekolah kita, dan dia memilih untuk masuk di kelas ini,, Ryan, perkenalkan dirimu di depan semuanya,,” Kata Bu Tari.
               “Pagi kawan-kawan, perkenalkan namaku Ryan, lengkapnya Ryanamonav Tcezky Romanov,, Aku pindahan dari Jakarta,,” Kata Ryan memperkenalkan diri.
               “Aku harap kalian bisa menerimaku dan berteman denganku,.,” Jelasnya lagi. Dan parahnya kali ini dia melirik ke arah Callista.
               “Oh Tuhan,, dia benar-benar Ryan, Mantan pacarku dulu,, kenapa dia bisa ada disini,,” Jeritnya dalam hati.
               Nathan menyadari kegelisahan Callista, “Kamu kenapa?? Sakit??” Tanyanya.
               “Oh gak kok, gak apa-apa, kenapa emang??” Tanya Callista agak gugup.
               “Gak apa-apa, kok kelihatannya gelisah gitu,,” Kata Nathan.
               “Gak kok nyantai aja,,” Kata Callista lagi sambil menampakkan senyumnya yang paling manis.
               “Oke, makasih Ryan atas perkenalannya, silahkan kamu pilih tempat dudukmu,, semoga senang ya disini, dan Ibu ucapkan selamat bergabung di kelas kita,,” Kata Bu Tari lagi.
               “Iya Bu, makasih,,” Kata Ryan. Kemudian dia berjalan mengitari kelas mencari tempat duduk dan anehnya dia memilih untuk duduk di belakang Callista dan Nathan, alias disamping Clarissa.
               “Duuhh,, kenapa dia duduk disitu sih,, nyebelin banget nih anak, apa maunya coba,,” Gumam Callista kesal. Tapi Ryan hanya diam, seakan tidak mengenali Callista.
               “Huh, nyebelin, sombong banget sih nih anak,, apa dia gak kenal ya sama aku,, apa mungkin dia udah lupa,,” Batin Callista.
               “Ah,, sudahlah,, biar aja dia mau lupa kek sama aku, mau gak kenal juga terserah dia,, ngapain aku ngurusin dia lagi,., toh aku juga udah punya Nathan.,,” Batinnya lagi sambil tersenyum melirik ke arah Nathan.

***
               Pagi ini, Callista bersiap diri untuk pergi menemui Nathan. Yah, hari ini adalah hari minggu, dimana Callista akan menyatakan semua perasaannya pada Nathan. Setelah menyiapkan diri dan mentalnya, Callista pun pergi dengan hati yang berbunga-bunga plus berdebar-debar. Callista janjian dengan Nathan untuk bertemu di taman kota, tempat dimana para ABG nongkrong setiap minggunya. Ketika sampai disana, dia lihat kosong, tak ada Nathan, Callista pun memutuskan untuk menunggunya di bangku taman di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menutup mata Callista dengan tangannya, “Ah, ini pasti Nathan,,” Batinnya sambil tersenyum.
               “Nathan, akhirnya kamu datang juga,,” Kata Callista. Perlahan cowok itu melepaskan tangannya, dan Callista pun langsung berbalik ke arahnya,, Tapi ternyata dia bukan Nathan, melainkan Ryan,, Callista terkejut, saangaaat terkejut,
               “Ryan,,!!! Ngapain kamu disini,,,” Kata Callista kaget.
               “Hai,, maaf aku bikin kamu terkejut, tadinya aku ke rumah kamu, pengen ngomong sesuatu ke kamu, tapi kata mama kamu, kamunya lagi keluar, ya udah aku kesini, eh ternyata aku ketemu kamu disini, kebetulan banget ya,,” Kata Ryan seakan tanpa merasa bersalah.
               Callista terdiam, lalu Ryan berkata, “Boleh aku minta waktunya sebentar, aku pengen ngomong sesuatu ke kamu,,” Katanya memohon.
               Callista menghela nafas, “Ya udah, kamu mau ngomong apa, cepetan, aku nggak ada waktu, aku lagi ada urusan penting,,” Kata Callista cuek.
               “Oke, begini, sebenarnya aku masih sayang sama kamu, aku mau balikan lagi sama kamu, aku pindah kesini sebenarnya hanya ada 1 alasan, yaitu aku pengen ngikutin kamu, aku pengen ketemu kamu lagi, aku pengen kita bisa balikan lagi kayak dulu, kali ini aku bener-bener serius, aku janji gak akan nyakitin hati kamu lagi,,” Kata Ryan.
               Lagi-lagi Callista dibuat terkejut oleh Ryan, pengakuannya barusan benar-benar bikin Callista kaget, Callista gak nyangka dengan apa yang Ryan katakan.
               “Apa kamu bilang?? Pengen balikan kayak dulu lagi?? Maaf Ryan, aku gak bisa, aku udah gak ada perasaan apa-apa lagi ke kamu,,” Kata Callista meminta maaf.
               “Aku gak peduli Callista, aku akan ngelakuin apa aja buat bikin kamu bisa mencintai aku lagi,, Callista, aku sayang sama kamu,,” Kata Ryan sambil menggenggam kedua tangan Callista.
               “Ryan!! Apa-apaan sih kamu,, dengar ya Ryan, sakit hati aku ke kamu itu masih belum hilang, emang kamu pikir semudah itu aku bisa ngelupain semua yang udah kamu lakuin ke aku di masa lalu,, kamu udah bikin aku terluka, kamu udah bikin hati aku hancur, dan kamu bisa dengan mudahnya bilang ke aku kalau kamu masih sayang sama aku, kamu pengen balikan sama aku lagi kayak dulu,, gak akan Ryan,,” Kata Callista kesal sambil melepaskan genggaman Ryan.
               “RYAN!!!! APA-APAAN KAMU,,!!!” Tanpa disadari Nathan sudah berdiri diantara Callista dan Ryan,
               “Nathan,,!!!” Kata Callista kaget.
               “Apa yang kamu lakukan,,??!!! Ryan,,!!! Berani-beraninya lo nyentuh Callista,,!!” Bentak Nathan pada Ryan.
               “Hah?? Emangnya Lo siapa?? Lo bukan siapa-siapa dia, Callista itu cewek gue,, jadi ya terserah gue dong mau ngapain” Jelas Ryan.
               “Apa?? Maksud lo apaan?? Emang sejak kapan kalian kenal?? Lo lihat dia juga baru kemarin,, beraninya Lo ngaku-ngaku jadi pacarnya Callista,,!!” Kata Nathan lagi.
               “Oh, Lo gak dikasih tahu sama Callista ya,, kasihan banget sih kamu,, ya udah nih Gue kasih tahu ya,, Callista itu mantan pacar Gue, kita dulu pernah pacaran,, dan kita bentar lagi bakal balikan lagi kayak dulu, iya kan sayang,,??” Kata Ryan sambil merangkul pundak Callista.
               Wajah Nathan seketika langsung berubah,, seakan percaya gak percaya, “Callista,,, bener apa yang diomongin sama Ryan barusan,,??” Tanya Nathan.
                “Iiisshhhh,, Apa-apaan sih Ryan?? Nathan, plis jangan percaya sama dia,, dan kamu Ryan, denger ya, aku gak bakal pernah balikan sama kamu lagi, aku udah gak ada perasaan apapun ke kamu,, ngerti,,??!!!!” Kata Callista marah.
               “Callista, aku bener-bener gak nyangka kamu bakal ngelakuin ini sama aku, kamu tega bohongin aku, bahkan kamu udah mempermainkan perasaan aku, aku kecewa sama kamu Callista,,” Kata Nathan seraya berlari pergi menjauh.
               “NATHAAAAANNN,,,!!!!!” Kata Callista mencegah. Callista langsung berlari menyusul Nathan untuk menjelaskan semuanya.
               “Nathaaann tungguuu,, dengerin dulu penjelasan aku,., aku nggak ada apa-apa sama dia, tadinya aku pengen ketemu kamu, aku pengen ngomong sesuatu ke kamu, ayolah Nathan plis maafin aku, ini semua salah paham,.,!!” Teriak Callista pada Nathan.
               Callista mempercepat langkahnya menyusul Nathan karena hari ini langit tak secerah biasanya, awan mendung menghiasi langit biru, dan tetes demi tetes air hujan mulai turun membasahi bumi dan juga mereka berdua.
               “Kamu mau jelasin apa lagi??!! Semuanya udah jelas, kamu emang nggak pernah bisa mencintai aku, di hati kamu cuma ada Ryan,,!!” Kata Nathan lagi.
               “Ryan itu cuma mantan pacarku, aku udah nggak ada perasaan apapun sama dia, plis kamu percaya sama aku,,!!” Kata Callista menjelaskan.
               Langkah Nathan terhenti, tiba-tiba dia berbalik ke arah Callista. “Jangan kamu ikutin aku lagi, jauhin aku, kamu pergi dari sini,,!!” Kata Nathan membentaknya.
               “Tapi Nathan,,,,
               “CEPAT PERGI DARI SINI!!!! PERGIIIIII!!!”
               Callista terkejut melihat sikap Nathan padanya, Callista pun meninggalkannya. Tak terasa airmata Callista mengalir begitu deras seiring derasnya air hujan yang membasahi tubuhnya. Callista berhenti sejenak, menumpahkan semua kesedihannya, Callista berteriak di tengah gemuruhnya suara air hujan. Samar-samar Callista melihat Nathan berlari ke arahnya sambil mengucapkan sesuatu, tapi Callista sama sekali tak mendengarnya. Callista mencoba untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nathan, “CALLISTAAAA AWAAASS... ADA MOBIL!!!!” Teriaknya. Callista benar-benar terkejut dan melihat kearah yang Nathan tunjukkan. Callista ingin segera menyingkir dari tempat itu dan menyelamatkan diri. Tetapi, Callista terlambat, mobil itu melaju cepat ke arahnya, Callista memejamkan mata dan tak tahu lagi bagaimana keadaannya. Tiba-tiba badannya terasa sakit, pandangannya kabur dan semuanya menjadi gelap.
               “Callista,, bangun,, ini aku Nathan,, bangun Callista,,”
               Samar-samar Callista mendengar suara Nathan, perlahan Callista membuka matanya, hujan masih mengguyur deras, dan Callista mengeluarkan banyak darah, di sampingnya ada Nathan, dia memangku kepala Callista, Callista mencoba untuk mengucapkan sesuatu, sambil menahan sakit,
               “N,,Na,,Nathan,, m,,maafin,,Callista,, ka,,kamu,, salah,, pa,,paham,,” Kata Callista terbata-bata,
Callista menghela nafas sebentar, “A,,ku,, mau,, ke,,temu,, ka,,mu,, karena,, aku,, mau,, ngo,mong,, sesuatu,, ke kamu,,” Lanjutnya.
               “Iya, apa itu Callista,,?? Tanya Nathan. Bibirnya bergetar dan Matanya berkaca-kaca.
               “A,,ku,, S,Sa,,yang,, sa,,ma,, Ka,,mu,, A,,ku,, C,Cinta,, sa,,ma,, Ka,,mu,, dan aku,, mau,, ja,,di,, pacar,, ka,,mu,,” Kata Callista lagi sambil mencoba untuk tersenyum untuk Nathan, meski badannya terasa sakit. Nathan tersenyum tipis, meski dalam hatinya dia menangis melihat keadaan Callista yang sangat parah.
“Ma,,Maafin,, a,ku,, Nathan,,” Lanjutnya sambil meremas jari Nathan erat dengan tangannya yang sudah banyak berlumuran darah.
               “Iya Callista, aku maafin kamu kok,, kamu gak salah,, aku yang terlalu egois,, sampai kamu jadi kayak gini,, maafin aku ya Callista,, plis kamu jangan tinggalin aku,, aku yakin kamu bisa bertahan,,” Kata Nathan sambil berurai airmata dan menggenggam erat jari Callista.
               Callista tersenyum, “Ma,,kasih,, ya,, Nathan,,, Callista,, gak,, akan,, ninggalin,, ka,,mu,,, kok,,, a,ku,, akan,, selalu,, di samping ka,mu,,, ka,,mu,, jangan,, nangis ya,,,” Jawabnya sambil mengusap airmata Nathan.
               Tiba-tiba badan Callista terasa semakin sakit, dia sudah tidak kuat lagi menahannya, nafasnya berdetak semakin lambat dan lambat. Mata Callista berkunang-kunang, pandangannya meredup, Callista merasa bahwa saat itu adalah saat terakhir untuk dia berada di dunia, Callista kembali menatap Nathan yang masih menangis,
               “Nathan,, ka,,mu,, harus,, inget 1 hal,,, Callista,, akan,, selalu,, sa,,yang,, sama kamu,,, Callista akan,, selalu,, ada buat kamu,, dan Callista akan,, selalu,, di samping kamu,, meskipun,, jika seandainya,, Callista udah,, gak ada lagi,, di dunia ini,, Callista,, sayaaaaang,, banget,, sama,, kamu,,” Callista mengucapkan kata terakhirnya untuk Nathan,
               “Kamu ngomong apa sih Callista,, kamu akan selalu ada disini nemenin aku,, kamu gak akan pergi ninggalin aku,,” Kata Nathan yang semakin berurai airmata mendengar Callista berbicara seperti itu.
               “aku juga sayang sama kamu Callista,, selalu sayang sama kamu,, sampai kapanpun dan selamanya,,” Kata Nathan lagi sambil mengecup kening Callista.
               Callista pun tersenyum, mencoba memberikan senyum yang paling manis untuk Nathan, untuk yang terakhir kalinya. Pelan Callista memejamkan matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya, sudah siap Callista untuk pergi ke tempat yang sangat damai, ke tempat peristirahatan terakhirnya.
               “Callista,, Callista, bangun Callistaa,,,” Kata Nathan panik sambil menepuk-nepuk pipi Callista pelan. “CALLISTAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,,,, jangan tinggalin aku,,,,” Kata Nathan setengah berteriak. Menyadari bahwa Callista sudah tidak bernafas lagi, Nathan menangis dan mengusap lembut wajah Callista, “Aku sayang kamu Callista, semoga kamu bahagia disana,, selamat tinggal Callista,,” Kata Nathan sambil menangis memeluk tubuh Callista erat sekali.
               Yah, Callista telah pergi meninggalkan dunia ini, meninggalkan Nathan untuk selama-lamanya. Tapi walaupun Callista sudah pergi dan takkan kembali, Callista akan selalu ada untuk Nathan, jiwa Callista akan selalu menemani Nathan dan 1 hal yang paling penting, Callista akan selalu menyayangi Nathan.
               Selamat Tinggal Callista,, Selamat Tinggal Untuk Selama-Lamanya,,,.
***


Nama : Azimatul Alifiyah
Nama Panggilan : Zilma
TTL : Gresik, 23 Maret 1997
Motto : Love Is Live,, & Sahabat Selamanya,,
Alamat : JL. Bandung 7 Malang (Ma’had Al-Qalam Man3Malang)
Pekerjaan : Siswi MAN 3 Malang
Hobi : Merangkai kata-kata puitis, Mendengarkan musik, bersepeda, travelling, Nyanyi, bikin cerpen dan novel, hang out bareng temen, dll.
Minat : Menjadi seorang penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang, menjadi Duta Besar (Dubes), serta menjadi wanita sukses dunia dan akhirat.
E-mail : aliya_affection23@yahoo.com
Facebook : stewart_pattinson@ymail.com atau Zhilvie Aries
Twitter : @ZhiLvie_ZhaF
CINTA ITU ADA!!!!
oleh Dofi Rotus Saniyah

Cinta Itu Ada
Entah dari mana aku memulainya, mungkin dari huruf A atau mungkin dari huruf S, tapi tidak, semua ini bukan sebuah abjad. Tapi ini sebuah perasaan, dan perasaan itu datang secara tiba-tiba, aku sendiri tidak tahu cinta itu datang dari mana, orang bilang cinta itu datang dari mata kemudian turun ke hati, tapi menurutku tidak, cinta itu datang dari hati dan tumbuh berkembang di sebuah ruang rindu, dimana ruang itu hanya kita, ya hanya kau dan aku yang tahu, tapi Tuhan juga tahu dimana ruang rindu itu berada.

Sudah hampir setahun aku mengenal dia, aku mengenal dia di dunia maya, saat itu aku tengah asik chatting, tiba-tiba dia menyapaku dan saat itu juga kami bertukar nomor handphone hinggga saat ini setiap hari kami selalu bertukar kabar, bertukar cerita, bertukar pengalaman, bertukar pengetahuan dan macam-macam.

“Menurutku Negara ini, bla bla blaa” itu yang selalu dia diskusikan dengan ku, tentang Negara, tentang bangsa ini yang menurut dia sedikit rusak, tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Aku hanya bisa mengeluh, kenapa kamu lebih suka ngomongin Negara ini, kenapa kamu lebih suka ngomongin harga cabai, harga minyak bumi yang kian melambung tinggi, kamu ga pernah coba ngomongin tentang perasan ini, tentang aku yang sudah lama bertarung dengan waktu, dengan kesabaran dan ketidak pastian.

Kemudia ia bertanya, “kamu mengerti maksudku, kamu paham apa yang kita diskusikan kali ini”

“sedikit” jawabku singkat….

“kalo diskusi kaya gini aku jadi emosi” itu kata-kata akhir yang ia ucapkan selepas diskusi.

Sebenarnya aku sudah muak dengan semua ini, aku sudah terlalu lama menunggu kedatangan nya, untuk apa semua ini, untuk apa? Pertanyaan itu selalu berputar-putar dikepalaku,

“kenapa kamu ga punya pacar disana?” tanyaku lirih

“untuk apa pacar? Aku ingin istri bukan pacar” jawabnya tegas

“yaudah kamu cari istri”

“ini aku lagi usaha” jawabnya singkat

Begitulah Dia setiap kali aku mulai lemah, setiap kali rasa ini mulai mencair, dia selalu melakukan berbagai cara mengeluarkan kata-kata yang membuat keras hati ini, kembali membuat keras perasaan ku ini untuk melawan waktu yang aku sendiri tidak tahu kapan waktu itu akan kalah dengan kerasnya hati ini.

“kapan kamu mau temui aku” tanyaku

“kalo pekerjaanku beres aku akan menemuimu secepatnya, ga perlu nunggu tahun depan, kalo dua bulan kemudian pekerjaanku beres, aku akan segera menemuimu.” Jawabannya selalu begitu, dan pertanyaanku juga selalu begitu.

“ kenapa dipertanyakan lagi, kalo umi sendiri sudah tahu 1+1 itu sama dengan 2” itu juga, ya itu semua sering ia keluarkan dari mulutnya setiap kali aku mengeluh dengan keadaan ini, setiap kali aku bertanya kapan kau datang dan temui aku.

Sebenarnya kalau bisa aku ingin merubah 1+1 itu bukan 2 tapi tiga, atau tetap satu, tapi memang sudah begitu rumusnya tidak bisa di ubah.

“tring tring tring tring” handphoneku berdering keras memecah kesunyian, membuyarkan lamunanku tetang dia….

“Angga” di layar handphone tertera nama Angga, seorang teman yang ku kenal sejak kecil, sejak aku duduk di bangku SD, tak ku sangka ternyata semenjak SD ia menyukaiku hingga saat ini, sampai aku duduk di bangku kuliah semester IV, aku tidak tahu kenapa dulu ia selalu menggangguku, mengejekku, menjahiliku, mungkin ia menyukaiku dan bodohnya aku baru menyadari kalo memang dia benar-benar menyukaiku.

“kalo kamu memang menyukaiku, temui aku sekarang juga,” tantangku saat itu.

“ya akan aku temui kamu sekarang  juga” jawab dia tegas

Saat itu, aku masih ingat, dengan wajah penuh keringat dan nafas yang tidak teratur ia datang  menemuiku, menungguku didepan pintu gerbang kampus.

“aku ga bisa kaya gini, aku ga mau persahabatan kita di nodai dengan sebuah cinta, aku ga bisa manggil kamu dengan sebutan sayang, ayah, papah, abang, aa atau semacam apalah yang orang –orang selalu lontarkan tehadap pacar-pacar mereka.” Dengusku saat itu.

“baiklah, ini yang kedua kalinya, aku ga mau terus-terusan disakiti, aku ga mau terus-terusan di permainkan oleh perasaan kamu yang aneh itu, anggap aja kita ga pernah kenal,” Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu saat aku memutuskan dia, hanya 3 hari kita pacaran, tanpa kencan.

Sudah sering aku melakukan hal seperti ini, lain lagi dengan wahyu teman SMAku, akhir-akhir ini dia rajin menjemputuku pulang kuliah, ada apa, entahlah aku tidak tahu, tapi dulu sewaktu aku sekolah aku pernah mendengar dari mulut dia aku mendengar dengan telingaku, dia menyukaiku, tapi entah mengapa perasaan cinta ini lebih kuat untuk dia yang jauh disana, untuk dia yang sedang berjuang menyelesaikan pekerjaannya, untuk dia yang sampai ini aku belum tahu bagaimana wajahnya, bagai mana rupanya, tinggi kah dia, tampankah dia mancungkah hidungnya, aku tidak tahu itu, hanya foto setengah badan yang kupunya, hanya foto dengan tatapan tajam yang aku punya.

“tring” aku tak menjawab telfon dari Angga, aku abaikan begitu saja
***

Malam ini aku sendiri dikamar, mengunci rapat-rapat pintu kamar, aku tidak mau ada satu orangpun yang masuk ke dalam kamarku, bila perlu seekor lalat atau nyamuk sekalipun tidak boleh ada yang masuk ke dalam kamarku yang sederhana ini.

“Kenapa kamu ga hubungi aku hari ini” tanyaku dalam hati, tanyaku pada handpohne, tanyaku pada tembok, tanyaku pada cermin, tapi mereka semua tidak ada yang mampu menjawab kegelisahan hati ini….

“Dia sedang sibuk, Dia sedang berjuang di medan perang, Dia juga sama sedang berjuang melawan waktu, sedang berjuang  melawan kerinduan, ya kerinduan yang tidak tahu dari mana rindu itu datangnya” suara itu terdengar dari dasar hatiku, .

Saat itu juga aku menangisi kebodohan ini, menangisi setiap detik waktu yang berlalu begitu saja, kalau mencari orang bodoh mungkin aku orangnya, ya merindukan, menangisi, mencintai terhadap orang yang sama sekali belum pernah aku temui.

“triing triing” handphoneku berdering keras memecah kesunyian.

“Abi” nama panggilan sayangku padanya, Dia memanggilku Umi, aku memanggilnya Abi, setahun kemarin kami sepakat dengan panggilan sayang itu..

“Assalamu’alaikum” sapanya di ujung telfon sana

“wa’alaikumsalam, dari mana saja hari ini? Baru inget aku?” Tanyaku berubi-tubi.

“dari tahun 45pun aku sudah ingat umi, umi tahu kan hari ini hari buruh sedunia, tadi siang ada unjuk rasa buruh, aku ada tugas buat ngepam, terus sekitar jam 5 sore ada laporan di kota Surabaya ada perampokan, Aku baru beres langsung telfon umi” jawabnya panjang lebar.

“yasudah aku ngerti kerjaan kamu,” jawabku bimbang antara percaya atau tidak dengan alasan yang dia buat.

Tapi memang selama setahun, selama itu dia belum pernah menunjukan tanda-tanda kalu dia punya pacar, atau tanda-tanda kalu dia punya istri atau tanda tanda dia selingkuh. Seperti itu, sebelum bekerja, sebelum bertemu dengan penjahat-penjahat yang ada di Negara ini dia selalu menghubunguku, menyempatkan diri untuk meminta ijin padaku kalau dia mau berangkat kerja, dan selepas kerja dia selalu menghubungiku menjelaskan apa saja yang ia lakukan hari ini.

Tapi tetap saja perasaan ini selalu takut, selalu takut akan kehilangan dia selalu takut akan di lupakan oleh seseorang teman, bukan teman mungkin pacar tapi bukan juga seorang pacar karena aku dan dia belum pernah ada kata pacaran. Banyak sekali pelajaran dari perasaan yang tidak jelas ini, dari perasaan yang hanya bisa dirasakan lewat suara, bukan dari tatapan, hanya pendengaran, sepeti orang buta saja, pikirku dalam Hati, pelajaran yang ku ambil adalah, aku semakin mengerti apa itu cinta apa itu menunggu apa itu bersabar apa itu dewasa, ya dia selalu mengajarkanku bagaimana caranya dewasa, bagaimana caranya bersabar.

“Apa aku harus keluar saja dari pekerjaan ini? Aku juga capek, lelah dengan semua ini, aku sudah coba cuti, tapi belum di tanggapi” jelasnya saat suaraku mulai terdengar parau.

“aku ga mau hancurin cita-cita kamu, aku cuma butuh satu hari, ga lebih, cukup satu hari temui aku disni” pintaku sambil menggigit bibir menahan air mata yang kini mulai sesak di dada.

“aku pasti datang, sekarang tugas kita hanya bersabar dan saling menjaga” jawabnya meyakinkan hatiku yang mulai melemah.

Aku selalu bertanya dalam hati, kenapa hati ini tidak sesabar dia, tidak sekuat dia. Apa disana dia punya pacar? Ah sudahlah aku tidak mau bertarung dengan pertanyaan bodoh yang selalu menghantuiku.

“Seandainya jarak serang dan surabaya dekat, mungkin setiap hari akan kutemui dia.” Gumamku dalam hati.

Saat itu juga aku teringat sebuah kisah, ya sama seperti aku, menyukai seseorang yang belum ia temui kisah seorang pasangan kekasih yang terbentang jarak begitu jauhnya antara amerika dan Australia, jauh bukan? Tapi mereka begitu kuat, mereka lalui detik demi detik jam demi jam hari demi hari bulan demi bulan tahun demi tahun, dan akhirnya waktu itu datang, dan cinta itu benar-benar ada, mereka bertemu dan menikah, hanya itu yang bisa menguatkanku, kisah itu yang mampu meyakinkanku bahwa aku dan dia yang tidak begitu jauh, hanya serang Surabaya, kita masih satu atap, masih satu langit, masih satu bumi. Aku yakin cinta itu ada, dan aku bisa merasakan bahwa dia yang jauh disana mempunyai perasaan yang sama seperti diriku.

By: Dofi Rotus Saniyah
tweet : @Dofiechanie2
Izinkan Aku Hidup
Oleh: Fahrial Jauvan Tajwardhani

“Ivan…bangun!!!”

Berat sekali rasanya membuka mata dihari libur seperti ini. Pelan-pelan Aku coba membuka mata mencari suara yang tega-teganya menggangguku sepagi ini. Kulihat Mamah sudah berpakaian rapi berdiri didepanku. Belum sepenuhnya nyawaku terkumpul langsung saja Aku melompat dari tempat tidurku menuju kamar mandi. Wah bodohnya Aku melupakan keberangkatanku hari ini. Untungnya tadi malam semua keperluanku sudah Mamah siapkan. Jadi Aku tinggal berangkat.

“Tasmu sudah didalam mobil, cepat berangkat.”

“Mamah ga nganter?” tanyaku.

“Ngga, Mamah ga mau nangis.”

“Wah, Mamah….sesayang itukah Mamah padaku,” canda manjaku sambil berjalan menghampiri kemudian memeluknya.

Matanya berbinar saatku memeluknya. Ada rasa ketidak tegaan dihatiku meninggalkan Mamah sendirian. Sekali lagi Aku memeluknya erat, binar dimatanya kini menjadi air yang menetes dipipi. Wajar kalo Mamah menangis seperti itu karna terhitung dari hari ini sampai 2 tahun kedepan kami tidak akan bertemu.

“Cepat berangkat, nanti Ivan ketinggalan pesawat!!!”

“Hati-hati, jaga diri Kamu baik-baik, jangan bandel, Ivan harus konsentrasi belajar ga boleh pacaran, disana harus nurut sama Om kamu.” lanjut Mamah menasehatiku.
***

Sekarang Aku berada dibenua eropa untuk melanjutkan studi. Masih ada waktu 2 tahun lamanya agar bisa lulus dan kembali keindonesia. Oh iya, disini Aku belajar bukan sebagai seorang mahasiswa tapi hanya seorang siswa.

Hari-hari berlalu seperti biasa, rutinitasku disini tidak ada yang mengesankan. Ingin sekali rasanya Aku buru-buru pergi dari keasingan ini. Pernah ada niatan berontak ke Mamah tapi Aku juga ga tega melihat Mamah kecewa. Mamah sangat berharap agar Aku berprestasi disini. Percuma rasanya Aku bebas kalo Mamah jadi kecewa.

Lambat sekali waktu berputar, ruang gerakku semakin hari semakin sempit. Kalau bukan buku pasti laptop yang jadi temanku. Hanya itu yang mengisi hari-hariku. Oh Tuhan, Aku berpikir kalo saat ini Aku sedang diuji.

Seperti biasanya hampir setiap pagi Aku berlari mengejar bis sekolah. Dan pagi ini adalah kesialan yang teramat sangat yang terjadi padaku, bis sekolah benar-benar penuh. Mungkin karena siswa baru. Susah rasanya bernafas ditengah himpitan orang-orang besar di sekelilingku. Baru beberapa menit menikmati perjalanan bisnya kembali berhenti. Ya ampun, semerana inikah hidupku, gumamku.

Bis sekolah kembali melanjutkan perjalanan, samar-samar aku melihat gadis yang baru naik tadi desak-desakkan mencari tempat duduk. Anak itu pasti siswa baru pikirku. Sebenarnya Aku sudah berniat untuk tidak menghiraukannya, na’asnya Aku, gadis itu berjalan menuju ke arahku dan, iya! Dia berdiri tepat di hadapanku. Karena dia perempuan jadi Aku mengalah saja padanya. Dan membiarkan Dia menduduki tempatku. “Hi…sit here,” ucapku sambil berdiri.

“Makasih.”

“Kamu dari Indonesia?”

“Iya.” sahutnya menatapku.

Spontan Aku mencubit pipinya dan berteriak kesenangan sehingga semua orang melihatku. Tatapan mereka seperti sedang mengintrogasiku. Aku hanya tertunduk malu. Dan Aku meminta maaf pada penumpang bis lainnya, sepertinya teriakanku mengagetkan mereka.

“Maaf ya…. disini Aku bener-bener ga punya teman jadi pas ketemu Kamu rasanya kaya lagi menang undian yang berhadiah mobil. Ga kebayang senengnya,” gurauku pada gadis dari Indonesia itu.

Dia tertawa mendengar gurauku.

“Kamu siswa baru?” lanjutku.

“No…no… no… Aku sudah satu tahun disini.” sahutnya sambil tertawa.

“Oh jadi ceritanya Kita satu angkatan nih,”

Gadis itu menganggukkan kepalanya. Sepertinya Aku jatuh cinta pada pandangan yang benar-benar pertama dalam hidupku.

Semenjak pertemuan itu ada harapan-harapan baru yang mulai kumunculkan dalam hidupku. Sekarang impianku bukan hanya ingin membahagiakan Mamah saja tapi juga Aku ingin membahagiakan diriku sendiri.

“Ivan….”

Aku menghentikan langkahku. Kepalaku celingak celinguk mencari sumber suara yang serak-serak parau memanggilku.

“Ivan…”

Suara itu semakin dekat ditelingaku. 1 tahun sudah lewat. Baru hari ini Aku mendengar seseorang di sekolah memanggil namaku.

Tiba-tiba gadis itu menepuk pundakku. “Yeeee, ketemu Kamu lagi,” ujarnya cengengesan.

“Kok kamu tau namaku? Tau dari mana?” tanyaku penasaran.

“Kemaren Aku cerita-cerita sama Kevin tentang pertemuan kita dibis eh tau-tau Dia kenal sama Kamu padahal Aku cuman ngasih tau ciri-ciri Kamu doang ke Kevin.”

“Yang Kamu maksud Kevin Bagas? Kayanya Dia temen SMPku.” tanyaku sambil meraba-raba ingatan.

“Iya. Oh Kalian teman lama ya. Ya, ya, ya…” ujarnya padaku.

“Aku Thesa.” lanjutnya sambil mengulurkan tangan.

“Thesa…. Thesa… nama yang bagus.”

“Oh iya, apa Kevin pacarmu?” lanjutku menanyakan kedekatan Kevin dan Thesa.

“Sama sepertimu, Dia juga temanku dari SMP, cuman kita beda SMP.”

“Bagus banget, untung kalian ga pacaran.” gumamku.

“Apa? Kamu ngomong apa barusan?” tanyanya penasaran.

“Ngga, Aku ngga ngomong apa-apa.”

“Tau ah Van! Jelas-jelas tadi Kamu ngomong.”

Setelah Thesa datang dalam hidupku. Sepertinya waktu tidak berjalan selambat kemaren. Sekarang malah Aku mau protes sama waktu yang jalannya kecepetan. Rasanya Aku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Nyaman sekali disini setelah ada Thesa.

***1 tahun kemudian***

Semakin kedepan semakin jelas terlihat cinta segitiga diantara Kami. Aku harus rela berbagi cinta dengan Kevin. Sebenarnya Kami menyadari bahwa ada cinta segitiga, tapi masing-masing dari Kami tidak ada yang mau mengalah apalagi sampai menyerah untuk mendapatkan Thesa.

Seharusnya Aku lebih realistis melihat keadaan seperti ini. Dibandingkan denganku Kevin sangat lebih pantas untuk Thesa. Tapi, kukatakan ‘tidak’ meskipun Aku dipaksa menyerah untuk mendapatkan Thesa. Aku tidak bisa tanpa Thesa. Dan Aku juga tidak akan mau membiasakan diriku tanpa Thesa. Aku tidak akan menyerah, tidak akan.

Banyak hal yang sudah terlewatkanku bersama Thesa. Walaupun bersamanya sangat menyakitkan tapi Aku rela menahan sakit itu agar bisa terus ada disisinya. Ini tahun terakhir Kami disini. Semoga setelah lulus, Thesa juga pulang ke Indonesia dan melanjutkan studinya diperguruan tinggi yang ada di Indonesia agar Aku bisa bersamanya lagi. Walaupun tidak, Aku akan menunggunya sampai dia kembali ke Indonesia.

Aku selalu merasa iri pada Kevin yang lebih banyak waktu bersama Thesa. Terakhir kali Aku memegang tangan Thesa pada saat Kami berlibur kepantai. Kalo si Kevin setiap hari juga bisa memegang tangan Thesa.

Malam ini Kami bertiga janjian makan malam bareng. Thesa tampil sangat cantik, Dia datang sendirian kerumahku. Kemudian disusul dengan kedatangan Kevin.

Tempatnya sangat indah. Pepohonan ditempat ini benar-benar membuatku nyaman. Apalagi sambil melihat gadis pujaanku.

Malam ini Aku merasa sedikit lega karna si Kevin mendadak pulang lebih awal. Katanya dipanggil Omanya. Beruntungnya Aku. Seandainya Kevin tidak pulang bisa-bisa Aku mati duduk menahan rasa cemburu melihat mereka ngobrol berdua.

Belum sempat pramusaji menghidangkan makanan. Mendadak nafasku berhenti, pandanganku buram, dadaku nyut nyutan seperti ada yang menahan pompa jantungku. Aku berusaha tenang agar tidak merusak momen terbaikku bersama Thesa. Tapi Aku tak tahan, kucoba menahan sakit didadaku itu dengan tangan kiriku, tapi sakitnya tidak berhenti. Penglihatanku semakin redup hampir-hampir Aku tidak bisa melihat Thesa. Sakitnya semakin menggila. Aku mendengar suara Thesa samar-samar memanggil namaku.

Akhirnya Aku menyerah dari sakit itu. Penglihatanku benar-benar menghilang, Aku tidak bisa melihat apa-apa. Sekarang tubuhku terasa ringan. Pelan-pelan kubuka mataku. Yang kulihat hanya ada kain putih yang mengelilingiku. Apakah ini yang namanya surga? Gumamku.

Aku tidak bisa berpikir banyak, kembali kupejamkan mataku. Aku merasa seperti sedang terbang tinggi saat ini. Rasanya Aku terbang menorobos awan yang bergumpal. Aku benar-benar diketinggian yang sejengkal lagi akan menerobos langit. Tapi Aku berhenti. Aku berhenti digumpalan awan, disana Aku melihat seseorang yang wajahnya sama sekali tidak tampak jelas. Tapi entah mengapa mendengar suaranya membuatku merasa damai, membuatku ingin menggapainya. Suara itu membuatku berhenti. Suara itu memanggil manggil namaku berulang kali. Kemudian Dia menghilang. Tak lama, Aku terbangun dari mimpiku dan saat Aku terbangun. Ternyata Mamah orang pertama yang kulihat.

“Ma…Ma-mah.” sapaku kelu.

Belum sempat Aku bangkit dari tempat tidurku. Mamah memelukku erat, tubuhku terhempas lagi pada tempat tidurku. Lagi-lagi Aku membuat Mamah menangis. Hancur hatiku melihat Mamah menangis terisak seperti itu. Ingin sekali rasanya Aku menghajar diriku sendiri yang bisanya hanya merepotkan Mamah. Mamah terus saja memelukku erat, sesekali mencium keningku. Mamah tidak berkata apapun. Tidak juga memarahiku seperti biasanya. Airmataku pelan-pelan jatuh kepipi. Ada apa dengan Mamah? Tanyaku dalam hati. Berhenti rasanya jantungku melihat Mamah seperti itu. Kutarik kedua tangannya. Kucium telapak tangannya. Aku katakan padanya Aku sangat menyayanginya, Aku katakan lagi padanya, Aku tidak akan meninggalkannya.

Kemudian Mamah mengusap airmatanya. Pelan-pelan Mamah mengangkat kepalanya dan menatapku syahdu. “Maafkan Mamah Van.”

Mamah kembali menangis menggeleng-gelengkan kepalanya seolah ada hal yang membuatnya cemas. Semakin penuh otakku dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Mamah kenapa?” tanyaku pelan.

“Inilah alasan Mamah menyekolahkan Kamu disini. Mamah tidak bisa menjagamu sendirian. Mamah juga tidak bisa melindungimu sendirian. Mamah tidak sanggup melihatmu menjerit kesakitan. Mamah tidak sanggup melihat anak kesayangan Mamah terluka,” ujarnya sambil menangis terisak.

“Maksud Mamah?”

“Maafkan Mamah…. Mamah sudah menyembunyikan hal ini kepadamu.”

“Katakan Mah! Ada apa denganku?” Aku merasa panik mendengar omongan Mamah.

“Ivan sedang mengalami penyumbatan pada jantung. Om Frans bilang ke Mamah kalo Ivan mengalami Jantung koroner pada level yang rendah. Masih ada kesempatan untuk sembuh makanya buru-buru Mamah sekolahkan Kamu disini. Biar Om Frans gampang ngobatin Ivan. Ivan yang sabar ya Mamah pasti akan melakukan apapun supaya Kamu sehat lagi. Ivan jangan khawatir.”

“Tapi kenapa ini sakit sekali Mah?”

“Sekarang penyakitmu itu berada pada level yang parah, tapi Ivan jangan takut Mamah sama Om Frans pasti akan membuat Ivan sehat lagi. Jangan khawatir Mamah selalu ada untuk Ivan.”

Bergetar hatiku rasanya mendengar ini. Tak sanggup rasanya Aku berpisah dari Mamah. Tak ingin rasanya Aku meninggalkan Mamah sendirian. Saat ini kurasa bumi seperti sedang berhenti berputar, manakala Mamah bilang penyakitku sudah pada level yang parah. Kenapa tidak langsung diambil saja nyawaku. Toh kalo sakit ini datang lagi rasanya Aku seperti sudah mati. Sakit sekali jantungku.
***

Akhirnya Aku menyelesaikan sekolahku dengan hasil yang memuaskan. Walaupun tidak berada pada posisi 1 sampai 10. Sudah lulus saja Aku sangat merasa puas. Nilaiku juga tidak begitu jelek. Selagi Mamah tidak protes itu artinya Aku sudah melaksanakan tugas dengan baik.

Akhirnya, Aku bisa kembali lagi ke Indonesia. Momen inilah yang Aku damba-dambakan 2 tahun belakangan ini.

Setelah perpisahan sekolah sampai sekarang Aku tidak pernah lagi bertemu dengan gadis pujaanku. Juga dengan si Kevin. Ya sudahlah sepertinya Aku harus berhenti menunggu Thesa. Toh percuma juga menunggunya, kalopun akhirnya Dia datang pastilah Kevin sudah menjadi kekasihnya.
***

“Ivan…..bangun!!!”

Malas sekali rasanya membuka mata sepagi ini. Suara itu mengganggu sekali. Mau tidak mau Aku mencoba membuka mataku yang seperti sedang digantungi besi, berat sekali. Pelan-pelan mataku terbuka. Kupikir Mamah yang membangunkanku. Tapi kok tumben Mamah terlihat lebih muda, gumamku dalam hati. Tak percaya dengan yang kulihat. Kukucek kedua mataku dengan tangan. Benar saja, yang membangunkanku pagi ini adalah Thesa. Gadis pujaanku. Aku langsung bangkit dari tempat tidur lalu mencubit pipinya seperti yang kulakukan dibis waktu pertama kali kami bertemu. Thesa tertawa melihat kelakuanku yang kekanak-kanakan ini. Tapi Aku tidak peduli. Aku benar-benar rindu padanya.

“Kenapa Kamu menghilang sih Van! Disana Aku mencarimu. Nomer telponmu sudah ga aktif. Sengaja ya biar Aku khawatir.” tanyanya sinis padaku.

“Apa? Ulangin kata terakhir yang Kamu ucapin tadi. Please Aku mau dengar lagi.” Pintaku melas.

“Aku khawatir.” Jawabnya ketus.

“Akhirnya…. Ada juga orang lain selain Mamah yang mengkhwatirkanku. Kamu orang pertama yang mengkhawatirkanku. Makasih ya…..” ujarku sambil tersenyum.

“Oh iya… Kevin mana?”

“Entahlah.” Sahutnya.
***

Nanti malam Thesa mengajakku makan malam bareng, katanya sih mau mengganti makan malam yang gagal dulu. Semoga kali ini penyakitku tidak kambuh lagi.

Malam hari tiba. Telapak tangan dan kakiku berkeringatan entah mengapa bisa seperti itu. Sepertinya Aku grogi menghadapi Thesa. Aku melihat disekelilingku orang-orang tampak biasa saja dengan pasangannya. Aku harus seperti mereka, gumamku menyemangati diri sendiri.

“Ivan.” Suara Thesa tepat dibelakangku.

Aku menoleh kearah Thesa. Wow, mataku tidak ingin melihat kelain selain ke gadis pujaanku itu. Malam ini penampilannya perfect.

Makan malampun dimulai. Sesekali Kami saling curi-curi pandang. Kaku sekali.

“Ivan….”

“Iya.” Sahutku dengan tertunduk malu.

“Aku baru tau kalo Kamu orangnya pemalu kaya gini…. Lucu.” ejeknya.

“Ini kali pertama dalam hidupku makan malam dengan perempuan selain Mamah. Jadi……” sahutku bingung mau bicara apa padanya.

“Jadi apa?”

“Ngga…. Ngga jadi apa-apa.”

Kekakuan inilah yang membuat Kami jadi banyak tertawa hingga akhirnya suasana menjadi nyaman dengan candaan-candaan.

“Ivan…” panggilnya dengan nada serius.

Aku kaget sekali mendengar suara yang terdengar arogan tersebut.

“Iya.” Sahutku ragu.

Mendadak suasana menjadi hening. “Aku suka sama Kamu, sejak Aku bertemu denganmu di bis sekolah,” tuturnya menatap tajam ke kornea mataku, “Sebelum Kamu masuk rumah sakit sebenarnya Aku ingin mengatakan ini. Tapi Aku ngga sempat.” Lanjutnya.

“Bagaimana dengan Kevin? Bukannya Kamu?”

“Iya dulu Aku memang suka sama Kevin tapi semenjak Kamu datang dihidupku. Aku ngga bisa berbohong Aku jauh lebih menyukaimu dibanding Kevin, Aku ngga bisa berhenti memikirkan Kamu. Tentangmu yang selalu menari-nari dipikiranku. Aku ngga bisa terus-terusan menghindar darimu dengan perasaanku yang seperti ini.” Ujarnya memotong pembicaraanku.

Ternyata selama ini Aku sudah salah paham kepada Thesa. Kukira Thesa tidak pernah memperhitungkanku dalam hidupnya. Kupikir hanya Kevin yang Dia pedulikan. Ternyata Aku salah. Aku tidak berusaha untuk mengerti perasaan Thesa. Aku terlalu egois, membiarkan perasaanku terlihat oleh Thesa. Tapi Aku tidak memberikan kesempatan pada Thesa untuk memperlihatkan perasaannya padaku. Sekarang sangatlah terlambat jika Aku bilang kalau Aku juga cinta sama Thesa. Setelah penyakit yang kuderita ini sangat parah, rasanya tidak mungkin Aku meng-iyakan keinginan Thesa, itu hanya akan menyakitinya saja. Beralasan palsu adalah jalan terbaik yang bisa Aku lakukan. Agar saat Aku menghilang dari hidupnya, Aku tidak membuat hatinya sakit. Mungkin inilah yang bisa Aku lakukan untuk melindunginya. Aku rela jika akhirnya Kevin yang akan memasang cincin pernikahan dijarinya. Aku rela jika akhirnya Kevin yang akan mendampinginya. Aku sangat lega jika setelah Aku tiada nanti Thesa bisa berbahagia, Aku sangat lega. Aku percaya pasti Kevin akan memberikan yang terbaik untuk Thesa. Melindungi, menjaga, dan selalu ada untuk Thesa. Aku yakin Kevin pasti akan melakukannya dengan baik.

“Sebelumnya Aku tau kalau Aku menyukaimu sejak kita pertama kali ketemu. Tapi Aku benar-benar ngga tau kalo Aku sukanya sedalam ini ke kamu. Lama Aku memendam perasaan ini. Selalu menahan rasa sakit dihatiku melihatmu yang sangat dekat dengan Kevin. Aku cemburu padamu, saat Kamu dekat denganku Aku selalu berpikir buruk tentangmu. Percuma rasanya Aku berkorban untukmu toh akhirnya Kamu sudah termiliki oleh Kevin. Itulah yang sering terlintas dibenakku. Sampai akhirnya Kamu menghilang dari penglihatanku. Setelah kelulusan, Aku mencarimu tapi Aku tidak bisa menemukanmu. Itu sangat menghancurkan hatiku. Otakku tidak bisa berhenti berprasangka buruk padamu. Aku mengira Kamu sudah bahagia bersama Kevin. Aku lelah dengan yang kurasakan, Aku keberatan dengan apa yang Aku lakukan. Aku berjaniji untuk berhenti menunggumu. Aku memutuskan untuk membuka hatiku menerima penghuni baru yang layak untuk menempati hatiku. Perlahan kekosonganku terisi oleh perempuan itu dan pelan-pelan Kamu sudah menghilang dari ingatanku,” ujarku sambil menatap wajahnya, “Sekarang Kamu datang lagi dengan membawa cinta yang sejak dulu Aku harap bisa mendapatkannya. Sayangnya Kamu datang disaat yang salah. Kamu datang disaat yang tidak tepat. Kamu datang setelah Aku mencintai orang lain dan Aku tidak bisa meninggalkan orang itu.” Lanjutku.

Binar dimatanya mencair menjadi airmata yang menetes. Tak sampai hati Aku melihatnya menangis. Sebenarnya apa yang kukatakan padanya sangat bertentangan dengan hatiku. Yang kuucapkkan tadi adalah kata-kata terburuk yang pernah keluar dari lisanku. Tapi Aku harus melakukannya. Sebelum Aku pergi Aku harus membuatnya membenciku agar Dia bisa buru-buru melupakanku. Aku tidak ingin membuatnya menangis lebih lagi dari ini. jadi biarlah kulakukan seperti ini agar saat Aku tiada Thesa tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padaku dengan begitu Dia tidak akan tersakiti.

Thesa tidak menjelaskan apapun padaku. Dia pergi begitu saja meninggalkanku. Aku juga tidak menuntutnya mengatakan sesuatu padaku.

Setelah Dia menghilang dari penglihatanku. Jantungku mulai nyut nyutan. Ya ampun sakitnya tidak bisa tergambarkan oleh apapun. Buru-buru kuambil ponsel meminta Mamah menjemputku. Aku takut tidak bisa pulang dengan selamat jika kupaksakan.

Suara Mamah terdengar panik saat Aku menelponnya. Pendengaranku mulai terganggu. Sakit dijantungku membuat organ tubuhku yang lain juga terganggu. Aku mulai kehilangan kesadaran. Ponselku sepertinya jatuh. Aku tidak tau lagi apa yang sedang Mamah pikirkan saat telponku tiba-tiba terputus. Tapi yang jelas Mamah pasti akan sangat panik. Aku takut terjadi apa-apa sama Mamah saat diperjalanan menjemputku. Tapi Aku sudah tidak bisa menguasai diriku. Pandanganku hitam tidak ada sedikitpun cayaha yang kulihat. Nafasku terengah, Aku rasa Aku sudah mati sekarang.

Pelan-pelan Aku mulai tersadar. Mataku perlahan kubuka. Buram sekali penglihatanku saat pertama kali membuka mata. Tidak ada siapa-siapa disekelilingku. Aku mencoba mengenali tempatku berada sekarang. Ternyata Aku berada dirumah sakit. Tapi anehnya Mamah tidak ada. Tidak mungkin rasanya kalo Mamah tidak mencariku, gumamku dalam hati. Aku melihat lelaki berkaca mata menghampiriku.

“Maaf, apa anda keluarga Ibu Farida?” tanya lelaki berkacamata itu padaku.

“Benar, Dia Ibu saya Pak…. Kenapa dengan Ibu saya Pak?” tanyaku penasaran.

“Ibu saudara mengalami kecelakan. Tapi Alhamdulillah beliau sudah siuman. Hanya saja beliau mengalami kebutaan. Jika ada pendonor yang mau memberikan kornea matanya untuk Ibu anda. Beliau bisa selamat dari kebutaan.”

“Ambil mata saya pak! Ambil semua yang Ibu saya perlukan. Jantung, ginjal, ataupun yang lainnya. Ambil nyawa Saya jika Ibu memerlukannya. Lakukan yang terbaik untuknya Pak! Lakukan!” pintaku spontan memaksa lelaki berkacamata itu.

Ternyata penyakit jantungku tidak sebanding sakitnya dengan perasaanku yang hancur lebur mendengar Mamah kecelakaan dan menjadi buta. Aku tidak ingin melihatnya terluka, Aku juga tidak ingin Dia meninggalkanku. Dia adalah Perempuan terhebat didunia yang pernah kumiliki. Selalu memberiku yang terbaik. Perempuan yang tidak pernah menyakiti hatiku ataupun mengecewakanku. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya tetap hidup. Kukorbankan kornea mataku untuk Mamah. Aku berharap Dia baik-baik saja dan Dia bisa melihat dunia lagi dengan mata miliku itu.

Sebelum pendonoran dimulai Aku sempat berpesan pada Kevin, teman lamaku yang kebetulan sebagai pahlawan yang menolong Mamah. Semuanya kuceritakan padanya tentang cintaku pada Thesa dan rasa sayangku pada Mamah.

Proses pendonoran akan dimulai. Tiba-tiba jantungku sakit lagi. Nafasku tersendat lagi. Tapi Aku harus menahan sakit ini sampai dokter memberi bius padaku. Aku ingin proses pendonoran segera dilakukan agar Mamah bisa segera melihat lagi. Aku sudah tidak kuat lagi dengan sakit yang kutahan tapi untunglah prosesnya sudah berlangsung. Ingin rasanya Aku tetap hidup berlama-lama. Berdiri didepan Mamah sebagai pelindungnya dan bersandar disamping Thesa sebagai pendampingnya. Tapi sepertinya Aku sudah sampai dibagian akhir dari perjalanan hidupku. Aku berhenti pada takdir yang telah dituliskan untukku. Sekarang Aku merasa terbang tinggi sejajar dengan gumpalan awan. Aku berharap bertemu lagi dengan perempuan yang memanggilku dulu saat pertama kali Aku koma.

Aku berharap seseorang itu memanggilku dan membangunkanku dari mimpiku ini. Aku berharap saat membuka mata nanti Mamah memelukku lagi. Aku janji kali ini Aku akan membalas pelukan Mamah dengan pelukan terhangat yang Aku miliki. Tapi sepertinya Aku tidak mendapatinya lagi. Aku terbang semakin tinggi dengan perasaan yang jauh lebih damai sekarang. Sakit dijantungku sudah menghilang, tidak ada lagi nyut nyutan yang membuatku menangis. Sekarang Aku merasa sangat nyaman. Aku terbang semakin tinggi bahkan sudah menembus batas langit. Entah berada dimana Aku saat ini? yang jelas tempatku bukan dunia lagi. Aku berada ditempat dimana Aku hidup abadi. Semoga Kevin bisa memenuhi janjinya padaku untuk memberikan yang terbaik pada Thesa. Juga, semoga Kevin menceritakan semua yang ku sampaikan padanya. Dan meminta Thesa juga Mamah untuk tidak menangisiku. Karna Aku akan selalu ada untuk mereka meskipun Kami tak saling melihat. Sekarang jasadku memang sudah tidak ada lagi. Tapi hatiku masih tetap ada dihati mereka yang tulus mencintaiku.

SELESAI


Fahrial Jauvan Tajwardhani
Profil penulis:

Nama Lengkap: Fahrial Jauvan Tajwardhani
Panggilan : Jauvan
Agama : Islam

Jejaring sosial

Facebook : Fahrial Jauvan Tajwardhani
Twitter : @FahrialJauvan
Masih Menunggu
Oleh : Luthfia Ayu Karina

Cerpen Cinta Sedih
Tiga minggu terakhir semesta tampak menciptakan jarak antara aku dan dia, aku larut dalam maklum yang terlalu maklum sampai begitu aku menyadari kami sudah sebegini parah. Dia sudah begitu jauh dan tak lagi tergenggam.

Sudah kuduga ini akan terjadi, kali terakhir bertemu perasaan begitu tak karuan tanpa alasan, tapi kuabaikan. Aku terlalu sibuk jatuh cinta sehingga terlalu istimewa menerjemahkan begitu banyak pertanda yang sebenarnya biasa. Ya, saat jatuh cinta perhatian sekecil apapun akan terasa begitu istimewa.

Aku ingat malam itu, “Aku tidak pernah berniat menggagalkan kita”, itu katamu. Aku masih ingat tatapan matamu malam itu, genggaman tanganmu, aku berusaha percaya walau aku meragu. Hangat namun kelu.

Aku tak pernah jemu menyayangmu, sekalipun aku tak pernah bisa menguraikan satu per satu alasanku.

“Bagaimana aku bagimu? Setidaknya dari penampakan luar atau baik burukku? Menurutku aku bukan orang yang baik”

“Aku tidak bisa menjelaskan itu. Makanya pinjamkan aku buku-bukumu yang banyak itu, aku perlu banyak referensi untuk mengungkapkannya”

“Ayolah, apa? Aku jarang mau tanya beginian ke orang lain”

“Terus kenapa kamu tanyakan hal ini ke aku?”

“Karena kamu penting buatku”

Dia mengeratkan genggamannya pada jemariku. Aku terharu, sebab tidak pernah tau bahwa seistimewa itu arti aku baginya.
***

Saat pulang, seperti biasa dia mengantarku sampai depan gang. Lama dia tidak melepaskan genggaman tanganku setelah ku mencium punggung tangannya. Tak seperti biasa juga, dia memandangku begitu lama, aku masih ingat, sangat ingat.

Nafasku beradu dengan gelisah.

"Ada apa?" tanyaku.

“Tidak apa, kalau-kalau nanti ga bisa ketemu lagi” seraya tersenyum, seperti biasa, penuh tanya.

Aku hanya menatapnya, selalu penuh harap akan ada pertemuan berikutnya.

Saat-saat seperti ini yang selalu aku benci, setiap harus melihatnya berpaling dan menyaksikan punggungnya perlahan menjauh meninggalkanku pulang. Setiap seperti ini dalam hatiku nyaris selalu penuh tanya, “Entah kapan lagi akan mendapatkan kesempatan seperti ini?”

Waktu bersamanya terlalu berharga buatku, karena aku selalu ingat berapa lama aku menunggu kesempatan ini dan sepenuhnya aku menyadari, aku tidak benar-benar pantas untuk kesempatan ini.
***

Berhari-hari hatiku berusaha memberontak logika, aku berusaha tetap waras diantara keadaan yang gila. Menyibukkan diri agar tetap bisa tetap tertawa, seolah baik-baik saja walaupun sebenarnya kecewa.

“Masalahku ya masalahku. Lebih baik diselesaikan sendiri daripada diumbar cuma dapat perhatian bukan pertolongan”

Itu katamu malam itu. Setelah sekian hari tanpa kabar dan kemudian begitu saja? Tidak tahu kah bagaimana khawatirnya aku?

Aku marah, sangat marah pada diriku sendiri karena tidak bisa menjadi orang yang dapat menjanjikan solusi bagi setiap masalahmu. Kukira kau butuh aku yang sederhana, yang hanya bisa mendengar keluhmu, yang cuma bisa mengusap punggungmu atau menyimpulkan senyum di wajahku ketika kau mengeluh. Bodohnya aku, ternyata kamu butuh seseorang yang lebih dari itu.

Kukira aku dapat menjadi seseorang yang kau percaya untuk membagi duka deritamu, ternyata aku belum seberarti itu, aku begitu kecil sampai kau tak dapat melihat seberapa tulusnya aku menghambakan diri pada kemenerimaanku atasmu.

Sebelumnya lama kubiarkan diriku larut pada kegelapan yang gelap, membiarkan diri sesakit-sakitnya tercabik-cabik kesendirian tanpa mau percaya lagi pada rasa cinta. Sampai suatu ketika aku bertemu denganmu yang begitu sepi, aku datang kepadamu, menjadi tamu bagi rumahmu berharap dapat meramaikan, kau menerimaku dengan baik, memperlakukan selayaknya tamu yang datang dengan niat baik-baik. Namun aku lancang, aku berharap bisa jadi pemiliknya, lebih dari sekedar tamu yang bisa datang dan pergi sesukanya. Aku ingin menjaganya, rumah itu aku ingin jadi yang menjaganya. Tapi ternyata tidak, tanganku begitu kaku dan kakiku begitu berdebu, khawatir aku akan menggores atau mengotori rumah yang kau benahi sekian lama, sehingga kau belum lagi mengizinkan aku melangkah lebih jauh. Langkahku terhenti dan aku berusaha mengerti, kau perlu penjaga terbaik untuk kau tempatkan sebagai pemiliknya.

Meskipun pernah kukatakan aku menyerah, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar menyerah, hanya terkadang aku merasa sedikit lelah. Aku masih akan menunggu meski akan sangat lama lagi bagimu untuk membukakan pintu sepenuhnya, tidak apa, aku akan lebih banyak berusaha memantaskan diri. Aku yakin suatu hari akan ada hari ketika kau menyambutku dan mempersilakanku masuk sebagai tamu terbaik juga sebagai pemilik satu-satunya rumah itu, hatimu…


*Banjarmasin, 7 Juni 2013
12.02 AM
GORESAN PENA  TERAKHIR

By. Khadevrisaba


Gadis itu cantik. Rambut hitam panjang sepunggung dan matanya coklat terang memancarkan sinar kehangatan. Gadis yang menginjak usia 20 tahun itu bernama Kasya. Ia pandai mengukir kisah-kisah cinta dan pandai menciptakan berbagai macam cerita.

Kasya kini telah duduk diatas kasur empuk dengan balutan sprei berwarna jingga. Mata coklat terangnya menatap lantai kamar yang berwarna kuning gading. Pikiran gadis itu melayang jauh menembus ruang dimensi waktu menuju kisah-kisah indah 4 tahun yang lalu. Kisah dimana ia dengan sukarela memberikan hatinya pada seorang cowok yang juga dengan sukarela menggoreskan sayatan-sayatan luka pedih di hati kejamnya sesuatu yang orang-orang namakan dengan “CINTA”.
“Kasya, kalo boleh jujur sebenernya tuh aku cinta sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku ?” itulah kata-kata yang keluar dengan lancarnya dari mulut seorang cowok kepada Kasya. Kasya hanya tersenyum simpul mendengarkan pernyataan yang cukup mengejutkannya. Gadis itu mengangguk pelan.
“aku juga cinta sama kamu Valent. Aku mau kok jadi pacar kamu…”
Kedua remaja itu pun resmi menjadi sepasang kekasih tepat tanggal 31 Maret 2005 saat usia Kasya baru menginjak 16 tahun.

                Semenjak saat itu hari-hari Kasya diwarnai dengan kebahagiaan dan kasih sayang. Setiap pagi gadis itu senantiasa bernyanyi dengan irama-irama cinta yang mengalun begitu indah, hingga akhirnya ia harus hancur merelakan kebahagiaanya lenyap ditelan penghianatan. Ya, Valent menghianati cinta Kasya. Cowok itu merampas kebahagiaan Kasya dalam waktu sekejap mata. Bukan main sakit hati Kasya saat itu. Ia menangis pilu di dalam kamarnya yang hangat. Mulai saat itu, Kasya yang dulunya seorang gadis ceria dan memiliki selera humor tinggi berubah menjadi gadis pendiam , mudah marah, dan pembenci. Ia begitu benci dengan segala sesuatu yang berbau cinta.

                Kondisi itu berlanjut selama dua tahun lamanya, hingga akhirnya Kasya mengenal sosok Gilang dalam kehidupannya yang baru. Cowok itu memiliki pikiran yang begitu dewasa walau hanya berpaut usia dua tahun diatas Kasya. Kedua insan itu pertama kali bertemu di sebuah rumah sakit terbesar yang berada di daerah Surabaya. Saat itu Kasya tengah duduk di bangku panjang taman Rumah Sakit menunggu sang mama selesai mengurusi administrasi perawatan sakit Thypus nya si Chika, adik satu-satunya Kasya. “Lagi nungguin siapa ?” Tanya seorang cowok kepadanya. Cowok itu duduk disamping Kasya tanpa permisi. Dan Kasya hanya mengamati sosok cowok tersebut tanpa menjawab pertanyaannya.

                Karena merasa nggak direspon, membuat cowok itu terdiam. “Kamu ngomong sama aku ?” Tanya Kasya. Kemudian cowok itu hanya tersenyum manis memperlihatkan deretan gigimya yang putih bersih tertata rapi.
“aku lagi nungguin mama” tukas si gadis.
“mau ditemenin ? oh iya aku Gilang . Kamu …?” cowok itu mengulurkan tangannya.
“Kasya” jawab gadis tersebut sambil membalas jabat tangan Gilang.
Ya begitulah perkenalan singkat antara Kasya dan Gilang. Dan akhirnya mereka pun saling mengenal lebih dekat.
                Hari berlalu kedua muda-mudi itu terlihat semakin akrab saja. Entah apa yang terjadi, namun sepertinya Kasya dapat menerima kehadiran Gilang dengan baik di hidupnya. Gadis itu selalu merasa nyaman saat berada di dekat Gilang. Kasya juga sering bercerita kepada Gilang tentang kehidupannya sebelum ia mengenal sosok cowok itu.

                Melihat dari kedekatannya banyak yang mengatakan jika mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Namun pada kenyataannya, Kasya dan Gilang hanya menjalin hubungan sebatas kakak beradik saja. Masalah perasaan dihati mereka berdua hanya mereka dan Tuhan saja yang tahu.

                Hari terus berlalu dan mereka berdua semakin terlihat dekat. Hampir setiap hari Gilang main ke rumah Kasya. Hingga suatu ketika, saat Gilang pertama kali mendapati Kasya menangis di halaman samping rumahnya.

“kamu nangis, sya ? ada masalah apa ?” Tanya Gilang sedikit panik.

Kasya tidak menjawab pertanyaan cowok itu. Ia hanya menatap  sayu kea rah Gilang dengan mata yang teruus mengeluarkan air bening yang mengalir deras membentuk dua anak sungai di pipinya.

“Mau berbagi kisah sama aku ?“

“aku… aku benci sama Valent Lang. Aku benci” jawab Kasya semakin histeris.” Kenapa dia selalu berhasil bikin aku menderita kayak gini ? kenapa ?”

Gilang merasa iba melihat keadaan gadis cantik itu. Ia lalu memeluk erat Kasya dan berusaha menenangkan hatinya.

“kemarin aku nggak sengaja ketemu sama dia. Dan itu mengingatkan aku bagaimana dia menghianatiku dulu” Kasya terus menangis

“Kenapa Tuhan menciptakan manusia nggak punya perasaan dan kejam seperti dia ? kenapa ?” ucap Kasya semakin kesal

“Udahlah sya, kamu tenang jangan nangis gitu. Entar cantiknya luntur lho. Lagian kamu bisa berusaha ngelupain dia. Aku pasti akan bantu kamu kok..” ucap Gilang berusaha menghibur.

Namun bukanya terhibur, malah membuat Kasya semakin sedih dan marah.

“emangnya gampang ngelupain seseorang yang pernah kita cintai gitu aja, hah ?” praktek itu nggak semudah teori Gilang..” balas Kasya.

Entah kenapa sejak saat itu Kasya malah sedikit marah dengan Gilang, dan mulai saat itu hubungan antara mereka menjadi renggang. Mereka mulai jarang ketemu. Hingga satu bulan berlalu, Kasya pun tak dapat memungkiri kerinduan terhadap Gilang. Gadis itu mulai merasa bersalah karena telah marah terhadap Gilang, padahal cowok itu mempunyai niat baik terhadapnya.

               Dengan membawa setumpuk perasaan bersalah, akhirnya Kasya memutuskan untuk menemui Gilang. Namun tiba-tiba sesampainya di rumah Gilang Kasya hanya bertemu dengan ibunya.
“Perkenalkan tante, nama saya Kasya . Saya temannya Gilang. Gilang ada tante ?” tanya Kasya
Namun ibunya Gilang diam, Ibunya terlihat sedih dan cemas hingga meneteskan air mata.
“maaf tante, kenapa tante menangis ? apa ada yang salah dengan pertanyaan saya. Atau jangan-jangan ada apa-apa dengan Gilang ?” Tanya Kasya lagi
“lebih baik kamu baca saja surat ini …!” jawab orang tua Gilang.
Akhirnya Kasya pun membaca lembaran kertas putih yang ditulis Gilang untuknya.

Dear Kasya,


Maaf membuatmu marah. Sepertinya aku tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu. Aku tidak bisa menghiburmu saat kamu tengah bersedih waktu itu. Tapi sungguh aku tidak bermaksud menyakiti hatimu…

Kasya , kita memang tidak memilki kemiripan dalam permasalahan kita sedikit pun. Kamu pernah cerita ke aku kalau orang yang paling kamu benci adalah Valent, seorang cowok yang pernah menyakiti hatimu. Tapi sebenarnya kamu dapat mengatasi kebencian dan permasalahan kamu akan hal itu jika kamu mau berusaha.

Tidak seperti masalahku. Kamu tahu hal apa yang paling aku benci di dunia ini ? yaitu  WAKTU. Aku benci pada waktu. Bagiku tak ada yang paling kejam di dunia ini selain waktu. Karena ia tidak memiliki toleransi kepada kita. Dan karena ia tidak memiliki rasa belas kasih kepadaku.

Aku pernah berharap dapat memutar waktu ke waktu sebelumnya , supaya aku tidak perlu dilahirkan di dunia ini. Supaya aku tidak perlu merasakan sakit yang tak dapat kutahan setiap hari. Aku juga pernah bermimpi dapat menghentikan waktu saat aku sedauung berada di dekatmu. Supaya aku bisa sejenak melupakan rasa sakit yang selama ini telah kuderita. Namun kenyataanya ia tidak sudi mengabulkan harapan dan impianku itu. Aku benci waktu , aku benci padanya.

Dan mungkin saat kau membaca goresan pena ini ini adalah goresan pena terakhirku. Serta pastinya kamu mengerti kan ? sekarang sudah pergi jauh, jauh sekali. Dan aku sekarang sudah tidak benci waktu lagi. Aku sudah tidak terikat dengan waktu karena aku sedang berada di tempat terindah bersama Tuhan untuk selamanya.Dan satu lagi, aku sangat bahagia mengenalmu meski kita tak lama kenal.

Lalu,,,, setelah aku pergi aku harap kamu masih mengingatku. Dan yang kuminta darimu hanya satu. Jadilah gadis  yang baik dan jangan hanya terikat cinta dengan orang yang menghianatimu. Cintailah orang yang selalu hadir dalam hidupmu. Serta jangan lupa mendoakanku…

Selamat tinggal Kasya , sampai jumpa di Syurga nanti


                                                Gilang Yudistira



          Air mata Kasya mengalir deras usai membaca surat itu. Hal yang tidak pernah diketahuinya selama ini.
Namun semenjak saat itu Kasya mulai berubah dan dia menuruti apa permintaan Gilang. Dan setiap saat dia ingin tidur dia selalu membuka di bawah tumpukan bantal tidurnya. Yaitu sebuah goresan terakhir dari Gilang. Itu dijadikan kenangan termanis dalam hidupnya.