Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sedih. Tampilkan semua postingan
DEMI SAHABAT

Oleh: annisa herdiani
Cinta dan sahabat dua hal yang sangat berarti namun tak bias dimengerti.sulit rasanya jika aku harus memilih salah satu diantara mereka, entah apa yang harus ku pilih apakah cinta ? atau sahabat ?

Hari ini Lina mulai masuk sekolah setelah menikmati libur selama 2 minggu. Seperti biasa Lina berangkat ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum (angkot). Ketika dijalan ada seorang cowok yang masuk kedalam angkot yang ditumpangi Lina , cowok itu keren dan ganteng banget, sampai sampai Lina yang cuek sama cowok jatuh cinta sama cowok itu. Tak terasa Lina pun telah sampai disekolah ,seampainya disana Lina langsung masuk ke kelasnya. Ketika bel berbunyi guru pun lansung masuk ke kelas dan di belakang guru yang masuk ke kelas Lina itu ada cowok yang ganteng dan cowok itu adalah cowok yang tadi seangkot dengan Lina, nama cowok itu Fino. Setelah memperkenalkan diri Fino langsung duduk dan memulai untuk belajar. Bel waktu istirahat telah berbunyi semua siswa yang berada di kelasnya segera keluar, ketika Lina dan sahabatnya akan keluar kelas tiba tiba mereka diajak berkenalan dengan Fino. Setelah itu mereka brtiga ngobrol didepan kelasnya “eh,Fin kenapa kamu pindah sekolah ke Bandung ??” Tanya Lina “aku pindah sekolah karena ayahku dipindah tugaskan diBandung.” Jawab Fino.”oh gitu yah , eh kenalin ini sahabat aku “ ucap Lina “Fino” ”Sindy”

Tiga bulan telah berlalu Fino,Sindy dan Lina semakin akrab. Pada suatu hari ketika Sindy lagi menonton tv di rumahnya, tiba-tiba ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya dan mengetuk pintu rumah Sindy. Saat dibuka ternyata dia Fino , Fino mengajak Sindy makan malam dengannya. mereka berdua pun pergi kesebuah restoran yang mempunyai suasana romantis. Setelah makan malam Fino mengantar Sindy pulang kerumahnya.

Pagi hari ketika Sindy dating dia langsung menceritakan kejadian tadi malam kepada Lina. “haii lin ??” sapa Sindy “ haii kenapa sih ko tumben datangnya pagi-pagi ?” Tanya Lina . “ emh gpp,ekh aku mau curhat nih sama kamu , kamu mau ga dengerin curhat aku ?” Tanya Sindy “yee, biasanya juga langsung ngomong! Kenapa sih kayaknya kamu bahagia banget?” Tanya Lina “iya lah, aku tuh bahagia banget , karena semalam aku diajak makan malam berdua sama Fino . aku diajak ke restoran yang mahal dan suasananya juga romantis.” Ucap Sindy “wah seru banget yah kayaknya ,kamu pasti bahagia banget diajak makan malam berdau sama cowok keren .” ucap Lina dengan nada orang sedih “eh Linko jawabnya kayak orang sedih gitu sih ? kamu kenapa ?” Tanya Sindy “gpp ko Sin aku lagi gak enak badan aja.” Jawab Lina lemas “ ya udah kita ke uks yah .” ajak Sindy. Sindy pun langsung membawa Lina ke uks.ketika dijalan tiba-tiba Fino dating “ eh lin kamu kenapa ?” Tanya Fino “Lina lagi sakit Fin aku mau antar dia ke uks .”jawab Sindy “ oh, aku Bantu yah .” ucap Fino . mereka pun pergi mengantar Lina ke uks sesampainya di uks Lina berbaring diatas tempat tidur dan ketika itu mereka menunggu Lina . saat Lina diperiksatiba-tiba Fino berbicarakepada Sindy di depan Lina “Sin aku sayng sama kamu >” ucap Fino “aku juga sanyang sama kamu Fin.”jawab Sindy sambil tersenyum “ aku cinta sama kamu , kamu mau ga jadi pacar aku ?” Tanya Fino kepada Sindy “kamu nembak Sindy Fin ?” Tanya Lina kepada Fino “iya Lin .” jawab Fino .”gimana jawabannya Sin ?” Tanya Fino “ aku juga cinta sama kamu Fin , aku mau jadi pacar kamu .” jawab Sindy senang .

Sejak hari itu mereka berdua jadian , menurut fino& sandy hari itu adalah hari yang paling bahagia , tapi menurut lina hari itu adalah hari yang sangat menyedih kan baginya. Saat itu lina sedih lina menangis saat fino & sandy telah keluar . namun lina tidak ingin membuat sandy merasa bersalah kepadanya karena telah merebut fino dari lina .

Ketika pulang sekolah lina &sandy segera pulang meninggalakn fino. Ketika fino kedalam kelas lina & sindy ternyata mereka telah pulang , ketika fino akan manyusul sindy dengan tidak sengaja fino menginjak sebuah buku diary kecil fino pun lang sung membawanya dan membaca buku itu . ternyeta itu adalah uku diary milik Lina ketika di buka fino kaget dan merasa bersalah kepada lina , dibuku itu lina menulis bahwa dia sangat menyukain fino . tapi lina tidak ingin ada seorangpun yang tau bahwa dia sangat mencintai fino dia tidak ingin mengkhianati sahabatnya setelah membaca buku diary itu tiba-tiba lina menelfon fino “ Fin kamu cepat dating ke rumah sakit sekarang !”ucap lina terburu buru “emang ada apa sih lin ? siapa yang sakit ?” Tanya fino “sindy masuk ICU dia terkena penyakit gagal ginjal .” ucap lina sambil menangis “hah sindy ? ya udah aku langsung berangkat kesana sekarang .” jawab fino .fino pun berangkat ke RS, seesampainya disana dia langsung menghampiri lina & dokter “ dok bagaimana keadaan sindy sekarang ??” Tanya fino “dia kritis harapan hidupnya sangat tipis.” Jawab dokter “ dok apa ada cara lain untuk menyembuhkan sindy ?” Tanya lina sambil menangis “ada , dia membutuhkan ginjal untuk mengganti ginjalnya yang rusak .” jawab dokter “ ya sudah kita periksa saja kalau ada ginjal yang cocok kita harus mendonorkan ginjal kita kpd sindy “ ucap lina . mereka semua pun di periksa , setelah di periksa mereka menunggu hasilnya di ruang tuggu . sambil menunggu fino menarik tangan lina dan langsung menariknya keluar. “lin ini buku kamu kan ?” tanya Fino sambil menyodorkan buku diary kecil.”iya, ko bisa ada di kamu ?” tanya lina “aku nemuin itu didepan kelas kamu dan aku ga sengaja baca buku diary kamu, maaf yah !” ucap Fino “ berarti kamu udah tau gimana perasaan aku sama kamu ?” tanya lina “iya, aku minta maaf ya lin selama ini aku dan sindy membuat hatimu sakit.”ucap Fino sambil memeluk lina . “udah lah gpp ini bukan salah kalian , aku Cuma minta agar kamu menjaga sahabatku sindy.” Ucap lina sambil melepaskan pelukan fino. Setelah lama ngobrol di luar mereka pergi kedalam RS untuk melihat hasil pemeriksaan tadi. “dok apakah ada ginjal dari kami yang cocok untuk sindy ?” tanya ibu sindy sambil menangis “ada ginjal itu milik lina .” jawab dokter . seketika mereka semua langsung mengarahkan pandangan kepada lina “lin apa kamu mau mendonorkan ginjal kamu untuk sindy ?” tanya fino “demi sahabatku aku mau melakukan apa saja, termasuk mendonorkan ginjal ku .” jawab lina. Lina pun bersiap-siap untuk melakukan operasi . setelah lama menunggu lina kemudian masuk ke ruang operasi . 5 jam telah berlalu tetapi dokter belum juga keluar . kami semua semakin cemas, ketika dokter keluar kami pun langsung menghampirinya “dok bagaimana dengan keadaan lina dan sindy ?” tanya fino cemas “keadaan sindy baik , tetapi ….” Ucapan dokter terhenti sejenak “tapi kenapa dok ?” tanya fino semakin cemas “lina meninggal.” Jawab dokter “ apa lina meninggal ?ga mungkin dok ga mungkin !” jawab fino kaget sambil berlari menghampiri lina yang sudah tak bernyawa lagi. “lin bangun lin kenapa kamu ninggalin kita ?” ucap fino sambil memeluk lina . lina pun di bawa kerumahnya dan langsung dimakamkan .ketika fino telah mengantarkan lina ke tempat peristirahatan terakhirnya fino langsung pergi ke RS , dan langsung masuk ke ruangan dimana sindy dirawat. Ketika sindy telah sadar sindy menanyakan lina kepada fino tetapi fino hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan sindy karena fino tau kalau sindy tau lina meninggal karena dia mendonorkan ginjalnya kepada sindy, sindy pasti merasa bersalah dan akan sedih tapi fino harus memberi tahukan kenyataan ini kepada sindy karena sindy sahadatnya lina.

“fin dimana lina? Kenapa lina ga ada ketika aku lagi sakit ?” tanya sindy “dia telah pergi sin .” jawab fino sedih. “maksud kamu apa sih fin? Dia pergi kemana? Dan siapa yang telah mendonorkan ginjalnya kepada dia?tanya sindy sambil menangi, ”lina . . . .“ucapan fino terhenti “lina kenapa sih fin? Dia baik-baik aja kan?tanya sindy cemas “lina meninggal saat mendonorkan ginjal untuk kamu, dia mengalami pendarahan.!” Jawab fino sambil menangis. “hah . . ?”ga mungkin fin ga mungkin.!”ucap sindy , sindy pun langsung pingsan dia tidak percaya kalau sahabatnya meninggal karena menolong dia . seminggu sindy di rawat dia pun di perbolehkan untuk pulang oleh dokter . ketika akan pulang dokter memberi sebuah surat yang telah ditulis oleh lina kepada sindy & fino . “ sindy , ini ada titipan surat dari dari lina untuk kalian.!” Ucap dokter “ lina? Kapan dia menulis suratnya dok.?” Tanya fino sambil membawa surat itu . “sebelum di operasi dia menulis surat itu.” Jawab dokter . mereka sedih setelah membaca isi surat itu.

untuk sindy&fino

Sin , aku sangat menyayangi kamu . aku melakuin ini buat kamu . aku ga tega liat fino lagi sedih liat kamu di rawat . dan sebenarnya aku mencintai fino sejak kita pertama bertemu . tapi fino lebih memilih kamu sin . selamat yah semoga hubungan kalian langgeng dan segera menikah.”
Maafkan aku telah membohongi kamu karena aku tidak mau mengganggu kalian
Untuk sindy tolong jaga fino yah jangan sampai kamu putus sama kamu.
Untuk fino tolong jaga sindy yah, kamu jangan mengecewakan dia dan buat dia bahagia.
Pertahankan terus hubungan cinta kalian.

Sahabatmu
Lina

Setelah membaca surat itu mereka menangis terharu pengorbanan lina tak akan pernah terlupakan. Setiap hari mereka pergi ke makamnya lina. Setelah lulus kuliah mereka pun menikah.
Izinkan Aku Hidup
Oleh: Fahrial Jauvan Tajwardhani

“Ivan…bangun!!!”

Berat sekali rasanya membuka mata dihari libur seperti ini. Pelan-pelan Aku coba membuka mata mencari suara yang tega-teganya menggangguku sepagi ini. Kulihat Mamah sudah berpakaian rapi berdiri didepanku. Belum sepenuhnya nyawaku terkumpul langsung saja Aku melompat dari tempat tidurku menuju kamar mandi. Wah bodohnya Aku melupakan keberangkatanku hari ini. Untungnya tadi malam semua keperluanku sudah Mamah siapkan. Jadi Aku tinggal berangkat.

“Tasmu sudah didalam mobil, cepat berangkat.”

“Mamah ga nganter?” tanyaku.

“Ngga, Mamah ga mau nangis.”

“Wah, Mamah….sesayang itukah Mamah padaku,” canda manjaku sambil berjalan menghampiri kemudian memeluknya.

Matanya berbinar saatku memeluknya. Ada rasa ketidak tegaan dihatiku meninggalkan Mamah sendirian. Sekali lagi Aku memeluknya erat, binar dimatanya kini menjadi air yang menetes dipipi. Wajar kalo Mamah menangis seperti itu karna terhitung dari hari ini sampai 2 tahun kedepan kami tidak akan bertemu.

“Cepat berangkat, nanti Ivan ketinggalan pesawat!!!”

“Hati-hati, jaga diri Kamu baik-baik, jangan bandel, Ivan harus konsentrasi belajar ga boleh pacaran, disana harus nurut sama Om kamu.” lanjut Mamah menasehatiku.
***

Sekarang Aku berada dibenua eropa untuk melanjutkan studi. Masih ada waktu 2 tahun lamanya agar bisa lulus dan kembali keindonesia. Oh iya, disini Aku belajar bukan sebagai seorang mahasiswa tapi hanya seorang siswa.

Hari-hari berlalu seperti biasa, rutinitasku disini tidak ada yang mengesankan. Ingin sekali rasanya Aku buru-buru pergi dari keasingan ini. Pernah ada niatan berontak ke Mamah tapi Aku juga ga tega melihat Mamah kecewa. Mamah sangat berharap agar Aku berprestasi disini. Percuma rasanya Aku bebas kalo Mamah jadi kecewa.

Lambat sekali waktu berputar, ruang gerakku semakin hari semakin sempit. Kalau bukan buku pasti laptop yang jadi temanku. Hanya itu yang mengisi hari-hariku. Oh Tuhan, Aku berpikir kalo saat ini Aku sedang diuji.

Seperti biasanya hampir setiap pagi Aku berlari mengejar bis sekolah. Dan pagi ini adalah kesialan yang teramat sangat yang terjadi padaku, bis sekolah benar-benar penuh. Mungkin karena siswa baru. Susah rasanya bernafas ditengah himpitan orang-orang besar di sekelilingku. Baru beberapa menit menikmati perjalanan bisnya kembali berhenti. Ya ampun, semerana inikah hidupku, gumamku.

Bis sekolah kembali melanjutkan perjalanan, samar-samar aku melihat gadis yang baru naik tadi desak-desakkan mencari tempat duduk. Anak itu pasti siswa baru pikirku. Sebenarnya Aku sudah berniat untuk tidak menghiraukannya, na’asnya Aku, gadis itu berjalan menuju ke arahku dan, iya! Dia berdiri tepat di hadapanku. Karena dia perempuan jadi Aku mengalah saja padanya. Dan membiarkan Dia menduduki tempatku. “Hi…sit here,” ucapku sambil berdiri.

“Makasih.”

“Kamu dari Indonesia?”

“Iya.” sahutnya menatapku.

Spontan Aku mencubit pipinya dan berteriak kesenangan sehingga semua orang melihatku. Tatapan mereka seperti sedang mengintrogasiku. Aku hanya tertunduk malu. Dan Aku meminta maaf pada penumpang bis lainnya, sepertinya teriakanku mengagetkan mereka.

“Maaf ya…. disini Aku bener-bener ga punya teman jadi pas ketemu Kamu rasanya kaya lagi menang undian yang berhadiah mobil. Ga kebayang senengnya,” gurauku pada gadis dari Indonesia itu.

Dia tertawa mendengar gurauku.

“Kamu siswa baru?” lanjutku.

“No…no… no… Aku sudah satu tahun disini.” sahutnya sambil tertawa.

“Oh jadi ceritanya Kita satu angkatan nih,”

Gadis itu menganggukkan kepalanya. Sepertinya Aku jatuh cinta pada pandangan yang benar-benar pertama dalam hidupku.

Semenjak pertemuan itu ada harapan-harapan baru yang mulai kumunculkan dalam hidupku. Sekarang impianku bukan hanya ingin membahagiakan Mamah saja tapi juga Aku ingin membahagiakan diriku sendiri.

“Ivan….”

Aku menghentikan langkahku. Kepalaku celingak celinguk mencari sumber suara yang serak-serak parau memanggilku.

“Ivan…”

Suara itu semakin dekat ditelingaku. 1 tahun sudah lewat. Baru hari ini Aku mendengar seseorang di sekolah memanggil namaku.

Tiba-tiba gadis itu menepuk pundakku. “Yeeee, ketemu Kamu lagi,” ujarnya cengengesan.

“Kok kamu tau namaku? Tau dari mana?” tanyaku penasaran.

“Kemaren Aku cerita-cerita sama Kevin tentang pertemuan kita dibis eh tau-tau Dia kenal sama Kamu padahal Aku cuman ngasih tau ciri-ciri Kamu doang ke Kevin.”

“Yang Kamu maksud Kevin Bagas? Kayanya Dia temen SMPku.” tanyaku sambil meraba-raba ingatan.

“Iya. Oh Kalian teman lama ya. Ya, ya, ya…” ujarnya padaku.

“Aku Thesa.” lanjutnya sambil mengulurkan tangan.

“Thesa…. Thesa… nama yang bagus.”

“Oh iya, apa Kevin pacarmu?” lanjutku menanyakan kedekatan Kevin dan Thesa.

“Sama sepertimu, Dia juga temanku dari SMP, cuman kita beda SMP.”

“Bagus banget, untung kalian ga pacaran.” gumamku.

“Apa? Kamu ngomong apa barusan?” tanyanya penasaran.

“Ngga, Aku ngga ngomong apa-apa.”

“Tau ah Van! Jelas-jelas tadi Kamu ngomong.”

Setelah Thesa datang dalam hidupku. Sepertinya waktu tidak berjalan selambat kemaren. Sekarang malah Aku mau protes sama waktu yang jalannya kecepetan. Rasanya Aku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Nyaman sekali disini setelah ada Thesa.

***1 tahun kemudian***

Semakin kedepan semakin jelas terlihat cinta segitiga diantara Kami. Aku harus rela berbagi cinta dengan Kevin. Sebenarnya Kami menyadari bahwa ada cinta segitiga, tapi masing-masing dari Kami tidak ada yang mau mengalah apalagi sampai menyerah untuk mendapatkan Thesa.

Seharusnya Aku lebih realistis melihat keadaan seperti ini. Dibandingkan denganku Kevin sangat lebih pantas untuk Thesa. Tapi, kukatakan ‘tidak’ meskipun Aku dipaksa menyerah untuk mendapatkan Thesa. Aku tidak bisa tanpa Thesa. Dan Aku juga tidak akan mau membiasakan diriku tanpa Thesa. Aku tidak akan menyerah, tidak akan.

Banyak hal yang sudah terlewatkanku bersama Thesa. Walaupun bersamanya sangat menyakitkan tapi Aku rela menahan sakit itu agar bisa terus ada disisinya. Ini tahun terakhir Kami disini. Semoga setelah lulus, Thesa juga pulang ke Indonesia dan melanjutkan studinya diperguruan tinggi yang ada di Indonesia agar Aku bisa bersamanya lagi. Walaupun tidak, Aku akan menunggunya sampai dia kembali ke Indonesia.

Aku selalu merasa iri pada Kevin yang lebih banyak waktu bersama Thesa. Terakhir kali Aku memegang tangan Thesa pada saat Kami berlibur kepantai. Kalo si Kevin setiap hari juga bisa memegang tangan Thesa.

Malam ini Kami bertiga janjian makan malam bareng. Thesa tampil sangat cantik, Dia datang sendirian kerumahku. Kemudian disusul dengan kedatangan Kevin.

Tempatnya sangat indah. Pepohonan ditempat ini benar-benar membuatku nyaman. Apalagi sambil melihat gadis pujaanku.

Malam ini Aku merasa sedikit lega karna si Kevin mendadak pulang lebih awal. Katanya dipanggil Omanya. Beruntungnya Aku. Seandainya Kevin tidak pulang bisa-bisa Aku mati duduk menahan rasa cemburu melihat mereka ngobrol berdua.

Belum sempat pramusaji menghidangkan makanan. Mendadak nafasku berhenti, pandanganku buram, dadaku nyut nyutan seperti ada yang menahan pompa jantungku. Aku berusaha tenang agar tidak merusak momen terbaikku bersama Thesa. Tapi Aku tak tahan, kucoba menahan sakit didadaku itu dengan tangan kiriku, tapi sakitnya tidak berhenti. Penglihatanku semakin redup hampir-hampir Aku tidak bisa melihat Thesa. Sakitnya semakin menggila. Aku mendengar suara Thesa samar-samar memanggil namaku.

Akhirnya Aku menyerah dari sakit itu. Penglihatanku benar-benar menghilang, Aku tidak bisa melihat apa-apa. Sekarang tubuhku terasa ringan. Pelan-pelan kubuka mataku. Yang kulihat hanya ada kain putih yang mengelilingiku. Apakah ini yang namanya surga? Gumamku.

Aku tidak bisa berpikir banyak, kembali kupejamkan mataku. Aku merasa seperti sedang terbang tinggi saat ini. Rasanya Aku terbang menorobos awan yang bergumpal. Aku benar-benar diketinggian yang sejengkal lagi akan menerobos langit. Tapi Aku berhenti. Aku berhenti digumpalan awan, disana Aku melihat seseorang yang wajahnya sama sekali tidak tampak jelas. Tapi entah mengapa mendengar suaranya membuatku merasa damai, membuatku ingin menggapainya. Suara itu membuatku berhenti. Suara itu memanggil manggil namaku berulang kali. Kemudian Dia menghilang. Tak lama, Aku terbangun dari mimpiku dan saat Aku terbangun. Ternyata Mamah orang pertama yang kulihat.

“Ma…Ma-mah.” sapaku kelu.

Belum sempat Aku bangkit dari tempat tidurku. Mamah memelukku erat, tubuhku terhempas lagi pada tempat tidurku. Lagi-lagi Aku membuat Mamah menangis. Hancur hatiku melihat Mamah menangis terisak seperti itu. Ingin sekali rasanya Aku menghajar diriku sendiri yang bisanya hanya merepotkan Mamah. Mamah terus saja memelukku erat, sesekali mencium keningku. Mamah tidak berkata apapun. Tidak juga memarahiku seperti biasanya. Airmataku pelan-pelan jatuh kepipi. Ada apa dengan Mamah? Tanyaku dalam hati. Berhenti rasanya jantungku melihat Mamah seperti itu. Kutarik kedua tangannya. Kucium telapak tangannya. Aku katakan padanya Aku sangat menyayanginya, Aku katakan lagi padanya, Aku tidak akan meninggalkannya.

Kemudian Mamah mengusap airmatanya. Pelan-pelan Mamah mengangkat kepalanya dan menatapku syahdu. “Maafkan Mamah Van.”

Mamah kembali menangis menggeleng-gelengkan kepalanya seolah ada hal yang membuatnya cemas. Semakin penuh otakku dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Mamah kenapa?” tanyaku pelan.

“Inilah alasan Mamah menyekolahkan Kamu disini. Mamah tidak bisa menjagamu sendirian. Mamah juga tidak bisa melindungimu sendirian. Mamah tidak sanggup melihatmu menjerit kesakitan. Mamah tidak sanggup melihat anak kesayangan Mamah terluka,” ujarnya sambil menangis terisak.

“Maksud Mamah?”

“Maafkan Mamah…. Mamah sudah menyembunyikan hal ini kepadamu.”

“Katakan Mah! Ada apa denganku?” Aku merasa panik mendengar omongan Mamah.

“Ivan sedang mengalami penyumbatan pada jantung. Om Frans bilang ke Mamah kalo Ivan mengalami Jantung koroner pada level yang rendah. Masih ada kesempatan untuk sembuh makanya buru-buru Mamah sekolahkan Kamu disini. Biar Om Frans gampang ngobatin Ivan. Ivan yang sabar ya Mamah pasti akan melakukan apapun supaya Kamu sehat lagi. Ivan jangan khawatir.”

“Tapi kenapa ini sakit sekali Mah?”

“Sekarang penyakitmu itu berada pada level yang parah, tapi Ivan jangan takut Mamah sama Om Frans pasti akan membuat Ivan sehat lagi. Jangan khawatir Mamah selalu ada untuk Ivan.”

Bergetar hatiku rasanya mendengar ini. Tak sanggup rasanya Aku berpisah dari Mamah. Tak ingin rasanya Aku meninggalkan Mamah sendirian. Saat ini kurasa bumi seperti sedang berhenti berputar, manakala Mamah bilang penyakitku sudah pada level yang parah. Kenapa tidak langsung diambil saja nyawaku. Toh kalo sakit ini datang lagi rasanya Aku seperti sudah mati. Sakit sekali jantungku.
***

Akhirnya Aku menyelesaikan sekolahku dengan hasil yang memuaskan. Walaupun tidak berada pada posisi 1 sampai 10. Sudah lulus saja Aku sangat merasa puas. Nilaiku juga tidak begitu jelek. Selagi Mamah tidak protes itu artinya Aku sudah melaksanakan tugas dengan baik.

Akhirnya, Aku bisa kembali lagi ke Indonesia. Momen inilah yang Aku damba-dambakan 2 tahun belakangan ini.

Setelah perpisahan sekolah sampai sekarang Aku tidak pernah lagi bertemu dengan gadis pujaanku. Juga dengan si Kevin. Ya sudahlah sepertinya Aku harus berhenti menunggu Thesa. Toh percuma juga menunggunya, kalopun akhirnya Dia datang pastilah Kevin sudah menjadi kekasihnya.
***

“Ivan…..bangun!!!”

Malas sekali rasanya membuka mata sepagi ini. Suara itu mengganggu sekali. Mau tidak mau Aku mencoba membuka mataku yang seperti sedang digantungi besi, berat sekali. Pelan-pelan mataku terbuka. Kupikir Mamah yang membangunkanku. Tapi kok tumben Mamah terlihat lebih muda, gumamku dalam hati. Tak percaya dengan yang kulihat. Kukucek kedua mataku dengan tangan. Benar saja, yang membangunkanku pagi ini adalah Thesa. Gadis pujaanku. Aku langsung bangkit dari tempat tidur lalu mencubit pipinya seperti yang kulakukan dibis waktu pertama kali kami bertemu. Thesa tertawa melihat kelakuanku yang kekanak-kanakan ini. Tapi Aku tidak peduli. Aku benar-benar rindu padanya.

“Kenapa Kamu menghilang sih Van! Disana Aku mencarimu. Nomer telponmu sudah ga aktif. Sengaja ya biar Aku khawatir.” tanyanya sinis padaku.

“Apa? Ulangin kata terakhir yang Kamu ucapin tadi. Please Aku mau dengar lagi.” Pintaku melas.

“Aku khawatir.” Jawabnya ketus.

“Akhirnya…. Ada juga orang lain selain Mamah yang mengkhwatirkanku. Kamu orang pertama yang mengkhawatirkanku. Makasih ya…..” ujarku sambil tersenyum.

“Oh iya… Kevin mana?”

“Entahlah.” Sahutnya.
***

Nanti malam Thesa mengajakku makan malam bareng, katanya sih mau mengganti makan malam yang gagal dulu. Semoga kali ini penyakitku tidak kambuh lagi.

Malam hari tiba. Telapak tangan dan kakiku berkeringatan entah mengapa bisa seperti itu. Sepertinya Aku grogi menghadapi Thesa. Aku melihat disekelilingku orang-orang tampak biasa saja dengan pasangannya. Aku harus seperti mereka, gumamku menyemangati diri sendiri.

“Ivan.” Suara Thesa tepat dibelakangku.

Aku menoleh kearah Thesa. Wow, mataku tidak ingin melihat kelain selain ke gadis pujaanku itu. Malam ini penampilannya perfect.

Makan malampun dimulai. Sesekali Kami saling curi-curi pandang. Kaku sekali.

“Ivan….”

“Iya.” Sahutku dengan tertunduk malu.

“Aku baru tau kalo Kamu orangnya pemalu kaya gini…. Lucu.” ejeknya.

“Ini kali pertama dalam hidupku makan malam dengan perempuan selain Mamah. Jadi……” sahutku bingung mau bicara apa padanya.

“Jadi apa?”

“Ngga…. Ngga jadi apa-apa.”

Kekakuan inilah yang membuat Kami jadi banyak tertawa hingga akhirnya suasana menjadi nyaman dengan candaan-candaan.

“Ivan…” panggilnya dengan nada serius.

Aku kaget sekali mendengar suara yang terdengar arogan tersebut.

“Iya.” Sahutku ragu.

Mendadak suasana menjadi hening. “Aku suka sama Kamu, sejak Aku bertemu denganmu di bis sekolah,” tuturnya menatap tajam ke kornea mataku, “Sebelum Kamu masuk rumah sakit sebenarnya Aku ingin mengatakan ini. Tapi Aku ngga sempat.” Lanjutnya.

“Bagaimana dengan Kevin? Bukannya Kamu?”

“Iya dulu Aku memang suka sama Kevin tapi semenjak Kamu datang dihidupku. Aku ngga bisa berbohong Aku jauh lebih menyukaimu dibanding Kevin, Aku ngga bisa berhenti memikirkan Kamu. Tentangmu yang selalu menari-nari dipikiranku. Aku ngga bisa terus-terusan menghindar darimu dengan perasaanku yang seperti ini.” Ujarnya memotong pembicaraanku.

Ternyata selama ini Aku sudah salah paham kepada Thesa. Kukira Thesa tidak pernah memperhitungkanku dalam hidupnya. Kupikir hanya Kevin yang Dia pedulikan. Ternyata Aku salah. Aku tidak berusaha untuk mengerti perasaan Thesa. Aku terlalu egois, membiarkan perasaanku terlihat oleh Thesa. Tapi Aku tidak memberikan kesempatan pada Thesa untuk memperlihatkan perasaannya padaku. Sekarang sangatlah terlambat jika Aku bilang kalau Aku juga cinta sama Thesa. Setelah penyakit yang kuderita ini sangat parah, rasanya tidak mungkin Aku meng-iyakan keinginan Thesa, itu hanya akan menyakitinya saja. Beralasan palsu adalah jalan terbaik yang bisa Aku lakukan. Agar saat Aku menghilang dari hidupnya, Aku tidak membuat hatinya sakit. Mungkin inilah yang bisa Aku lakukan untuk melindunginya. Aku rela jika akhirnya Kevin yang akan memasang cincin pernikahan dijarinya. Aku rela jika akhirnya Kevin yang akan mendampinginya. Aku sangat lega jika setelah Aku tiada nanti Thesa bisa berbahagia, Aku sangat lega. Aku percaya pasti Kevin akan memberikan yang terbaik untuk Thesa. Melindungi, menjaga, dan selalu ada untuk Thesa. Aku yakin Kevin pasti akan melakukannya dengan baik.

“Sebelumnya Aku tau kalau Aku menyukaimu sejak kita pertama kali ketemu. Tapi Aku benar-benar ngga tau kalo Aku sukanya sedalam ini ke kamu. Lama Aku memendam perasaan ini. Selalu menahan rasa sakit dihatiku melihatmu yang sangat dekat dengan Kevin. Aku cemburu padamu, saat Kamu dekat denganku Aku selalu berpikir buruk tentangmu. Percuma rasanya Aku berkorban untukmu toh akhirnya Kamu sudah termiliki oleh Kevin. Itulah yang sering terlintas dibenakku. Sampai akhirnya Kamu menghilang dari penglihatanku. Setelah kelulusan, Aku mencarimu tapi Aku tidak bisa menemukanmu. Itu sangat menghancurkan hatiku. Otakku tidak bisa berhenti berprasangka buruk padamu. Aku mengira Kamu sudah bahagia bersama Kevin. Aku lelah dengan yang kurasakan, Aku keberatan dengan apa yang Aku lakukan. Aku berjaniji untuk berhenti menunggumu. Aku memutuskan untuk membuka hatiku menerima penghuni baru yang layak untuk menempati hatiku. Perlahan kekosonganku terisi oleh perempuan itu dan pelan-pelan Kamu sudah menghilang dari ingatanku,” ujarku sambil menatap wajahnya, “Sekarang Kamu datang lagi dengan membawa cinta yang sejak dulu Aku harap bisa mendapatkannya. Sayangnya Kamu datang disaat yang salah. Kamu datang disaat yang tidak tepat. Kamu datang setelah Aku mencintai orang lain dan Aku tidak bisa meninggalkan orang itu.” Lanjutku.

Binar dimatanya mencair menjadi airmata yang menetes. Tak sampai hati Aku melihatnya menangis. Sebenarnya apa yang kukatakan padanya sangat bertentangan dengan hatiku. Yang kuucapkkan tadi adalah kata-kata terburuk yang pernah keluar dari lisanku. Tapi Aku harus melakukannya. Sebelum Aku pergi Aku harus membuatnya membenciku agar Dia bisa buru-buru melupakanku. Aku tidak ingin membuatnya menangis lebih lagi dari ini. jadi biarlah kulakukan seperti ini agar saat Aku tiada Thesa tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padaku dengan begitu Dia tidak akan tersakiti.

Thesa tidak menjelaskan apapun padaku. Dia pergi begitu saja meninggalkanku. Aku juga tidak menuntutnya mengatakan sesuatu padaku.

Setelah Dia menghilang dari penglihatanku. Jantungku mulai nyut nyutan. Ya ampun sakitnya tidak bisa tergambarkan oleh apapun. Buru-buru kuambil ponsel meminta Mamah menjemputku. Aku takut tidak bisa pulang dengan selamat jika kupaksakan.

Suara Mamah terdengar panik saat Aku menelponnya. Pendengaranku mulai terganggu. Sakit dijantungku membuat organ tubuhku yang lain juga terganggu. Aku mulai kehilangan kesadaran. Ponselku sepertinya jatuh. Aku tidak tau lagi apa yang sedang Mamah pikirkan saat telponku tiba-tiba terputus. Tapi yang jelas Mamah pasti akan sangat panik. Aku takut terjadi apa-apa sama Mamah saat diperjalanan menjemputku. Tapi Aku sudah tidak bisa menguasai diriku. Pandanganku hitam tidak ada sedikitpun cayaha yang kulihat. Nafasku terengah, Aku rasa Aku sudah mati sekarang.

Pelan-pelan Aku mulai tersadar. Mataku perlahan kubuka. Buram sekali penglihatanku saat pertama kali membuka mata. Tidak ada siapa-siapa disekelilingku. Aku mencoba mengenali tempatku berada sekarang. Ternyata Aku berada dirumah sakit. Tapi anehnya Mamah tidak ada. Tidak mungkin rasanya kalo Mamah tidak mencariku, gumamku dalam hati. Aku melihat lelaki berkaca mata menghampiriku.

“Maaf, apa anda keluarga Ibu Farida?” tanya lelaki berkacamata itu padaku.

“Benar, Dia Ibu saya Pak…. Kenapa dengan Ibu saya Pak?” tanyaku penasaran.

“Ibu saudara mengalami kecelakan. Tapi Alhamdulillah beliau sudah siuman. Hanya saja beliau mengalami kebutaan. Jika ada pendonor yang mau memberikan kornea matanya untuk Ibu anda. Beliau bisa selamat dari kebutaan.”

“Ambil mata saya pak! Ambil semua yang Ibu saya perlukan. Jantung, ginjal, ataupun yang lainnya. Ambil nyawa Saya jika Ibu memerlukannya. Lakukan yang terbaik untuknya Pak! Lakukan!” pintaku spontan memaksa lelaki berkacamata itu.

Ternyata penyakit jantungku tidak sebanding sakitnya dengan perasaanku yang hancur lebur mendengar Mamah kecelakaan dan menjadi buta. Aku tidak ingin melihatnya terluka, Aku juga tidak ingin Dia meninggalkanku. Dia adalah Perempuan terhebat didunia yang pernah kumiliki. Selalu memberiku yang terbaik. Perempuan yang tidak pernah menyakiti hatiku ataupun mengecewakanku. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya tetap hidup. Kukorbankan kornea mataku untuk Mamah. Aku berharap Dia baik-baik saja dan Dia bisa melihat dunia lagi dengan mata miliku itu.

Sebelum pendonoran dimulai Aku sempat berpesan pada Kevin, teman lamaku yang kebetulan sebagai pahlawan yang menolong Mamah. Semuanya kuceritakan padanya tentang cintaku pada Thesa dan rasa sayangku pada Mamah.

Proses pendonoran akan dimulai. Tiba-tiba jantungku sakit lagi. Nafasku tersendat lagi. Tapi Aku harus menahan sakit ini sampai dokter memberi bius padaku. Aku ingin proses pendonoran segera dilakukan agar Mamah bisa segera melihat lagi. Aku sudah tidak kuat lagi dengan sakit yang kutahan tapi untunglah prosesnya sudah berlangsung. Ingin rasanya Aku tetap hidup berlama-lama. Berdiri didepan Mamah sebagai pelindungnya dan bersandar disamping Thesa sebagai pendampingnya. Tapi sepertinya Aku sudah sampai dibagian akhir dari perjalanan hidupku. Aku berhenti pada takdir yang telah dituliskan untukku. Sekarang Aku merasa terbang tinggi sejajar dengan gumpalan awan. Aku berharap bertemu lagi dengan perempuan yang memanggilku dulu saat pertama kali Aku koma.

Aku berharap seseorang itu memanggilku dan membangunkanku dari mimpiku ini. Aku berharap saat membuka mata nanti Mamah memelukku lagi. Aku janji kali ini Aku akan membalas pelukan Mamah dengan pelukan terhangat yang Aku miliki. Tapi sepertinya Aku tidak mendapatinya lagi. Aku terbang semakin tinggi dengan perasaan yang jauh lebih damai sekarang. Sakit dijantungku sudah menghilang, tidak ada lagi nyut nyutan yang membuatku menangis. Sekarang Aku merasa sangat nyaman. Aku terbang semakin tinggi bahkan sudah menembus batas langit. Entah berada dimana Aku saat ini? yang jelas tempatku bukan dunia lagi. Aku berada ditempat dimana Aku hidup abadi. Semoga Kevin bisa memenuhi janjinya padaku untuk memberikan yang terbaik pada Thesa. Juga, semoga Kevin menceritakan semua yang ku sampaikan padanya. Dan meminta Thesa juga Mamah untuk tidak menangisiku. Karna Aku akan selalu ada untuk mereka meskipun Kami tak saling melihat. Sekarang jasadku memang sudah tidak ada lagi. Tapi hatiku masih tetap ada dihati mereka yang tulus mencintaiku.

SELESAI


Fahrial Jauvan Tajwardhani
Profil penulis:

Nama Lengkap: Fahrial Jauvan Tajwardhani
Panggilan : Jauvan
Agama : Islam

Jejaring sosial

Facebook : Fahrial Jauvan Tajwardhani
Twitter : @FahrialJauvan
GORESAN PENA  TERAKHIR

By. Khadevrisaba


Gadis itu cantik. Rambut hitam panjang sepunggung dan matanya coklat terang memancarkan sinar kehangatan. Gadis yang menginjak usia 20 tahun itu bernama Kasya. Ia pandai mengukir kisah-kisah cinta dan pandai menciptakan berbagai macam cerita.

Kasya kini telah duduk diatas kasur empuk dengan balutan sprei berwarna jingga. Mata coklat terangnya menatap lantai kamar yang berwarna kuning gading. Pikiran gadis itu melayang jauh menembus ruang dimensi waktu menuju kisah-kisah indah 4 tahun yang lalu. Kisah dimana ia dengan sukarela memberikan hatinya pada seorang cowok yang juga dengan sukarela menggoreskan sayatan-sayatan luka pedih di hati kejamnya sesuatu yang orang-orang namakan dengan “CINTA”.
“Kasya, kalo boleh jujur sebenernya tuh aku cinta sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku ?” itulah kata-kata yang keluar dengan lancarnya dari mulut seorang cowok kepada Kasya. Kasya hanya tersenyum simpul mendengarkan pernyataan yang cukup mengejutkannya. Gadis itu mengangguk pelan.
“aku juga cinta sama kamu Valent. Aku mau kok jadi pacar kamu…”
Kedua remaja itu pun resmi menjadi sepasang kekasih tepat tanggal 31 Maret 2005 saat usia Kasya baru menginjak 16 tahun.

                Semenjak saat itu hari-hari Kasya diwarnai dengan kebahagiaan dan kasih sayang. Setiap pagi gadis itu senantiasa bernyanyi dengan irama-irama cinta yang mengalun begitu indah, hingga akhirnya ia harus hancur merelakan kebahagiaanya lenyap ditelan penghianatan. Ya, Valent menghianati cinta Kasya. Cowok itu merampas kebahagiaan Kasya dalam waktu sekejap mata. Bukan main sakit hati Kasya saat itu. Ia menangis pilu di dalam kamarnya yang hangat. Mulai saat itu, Kasya yang dulunya seorang gadis ceria dan memiliki selera humor tinggi berubah menjadi gadis pendiam , mudah marah, dan pembenci. Ia begitu benci dengan segala sesuatu yang berbau cinta.

                Kondisi itu berlanjut selama dua tahun lamanya, hingga akhirnya Kasya mengenal sosok Gilang dalam kehidupannya yang baru. Cowok itu memiliki pikiran yang begitu dewasa walau hanya berpaut usia dua tahun diatas Kasya. Kedua insan itu pertama kali bertemu di sebuah rumah sakit terbesar yang berada di daerah Surabaya. Saat itu Kasya tengah duduk di bangku panjang taman Rumah Sakit menunggu sang mama selesai mengurusi administrasi perawatan sakit Thypus nya si Chika, adik satu-satunya Kasya. “Lagi nungguin siapa ?” Tanya seorang cowok kepadanya. Cowok itu duduk disamping Kasya tanpa permisi. Dan Kasya hanya mengamati sosok cowok tersebut tanpa menjawab pertanyaannya.

                Karena merasa nggak direspon, membuat cowok itu terdiam. “Kamu ngomong sama aku ?” Tanya Kasya. Kemudian cowok itu hanya tersenyum manis memperlihatkan deretan gigimya yang putih bersih tertata rapi.
“aku lagi nungguin mama” tukas si gadis.
“mau ditemenin ? oh iya aku Gilang . Kamu …?” cowok itu mengulurkan tangannya.
“Kasya” jawab gadis tersebut sambil membalas jabat tangan Gilang.
Ya begitulah perkenalan singkat antara Kasya dan Gilang. Dan akhirnya mereka pun saling mengenal lebih dekat.
                Hari berlalu kedua muda-mudi itu terlihat semakin akrab saja. Entah apa yang terjadi, namun sepertinya Kasya dapat menerima kehadiran Gilang dengan baik di hidupnya. Gadis itu selalu merasa nyaman saat berada di dekat Gilang. Kasya juga sering bercerita kepada Gilang tentang kehidupannya sebelum ia mengenal sosok cowok itu.

                Melihat dari kedekatannya banyak yang mengatakan jika mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Namun pada kenyataannya, Kasya dan Gilang hanya menjalin hubungan sebatas kakak beradik saja. Masalah perasaan dihati mereka berdua hanya mereka dan Tuhan saja yang tahu.

                Hari terus berlalu dan mereka berdua semakin terlihat dekat. Hampir setiap hari Gilang main ke rumah Kasya. Hingga suatu ketika, saat Gilang pertama kali mendapati Kasya menangis di halaman samping rumahnya.

“kamu nangis, sya ? ada masalah apa ?” Tanya Gilang sedikit panik.

Kasya tidak menjawab pertanyaan cowok itu. Ia hanya menatap  sayu kea rah Gilang dengan mata yang teruus mengeluarkan air bening yang mengalir deras membentuk dua anak sungai di pipinya.

“Mau berbagi kisah sama aku ?“

“aku… aku benci sama Valent Lang. Aku benci” jawab Kasya semakin histeris.” Kenapa dia selalu berhasil bikin aku menderita kayak gini ? kenapa ?”

Gilang merasa iba melihat keadaan gadis cantik itu. Ia lalu memeluk erat Kasya dan berusaha menenangkan hatinya.

“kemarin aku nggak sengaja ketemu sama dia. Dan itu mengingatkan aku bagaimana dia menghianatiku dulu” Kasya terus menangis

“Kenapa Tuhan menciptakan manusia nggak punya perasaan dan kejam seperti dia ? kenapa ?” ucap Kasya semakin kesal

“Udahlah sya, kamu tenang jangan nangis gitu. Entar cantiknya luntur lho. Lagian kamu bisa berusaha ngelupain dia. Aku pasti akan bantu kamu kok..” ucap Gilang berusaha menghibur.

Namun bukanya terhibur, malah membuat Kasya semakin sedih dan marah.

“emangnya gampang ngelupain seseorang yang pernah kita cintai gitu aja, hah ?” praktek itu nggak semudah teori Gilang..” balas Kasya.

Entah kenapa sejak saat itu Kasya malah sedikit marah dengan Gilang, dan mulai saat itu hubungan antara mereka menjadi renggang. Mereka mulai jarang ketemu. Hingga satu bulan berlalu, Kasya pun tak dapat memungkiri kerinduan terhadap Gilang. Gadis itu mulai merasa bersalah karena telah marah terhadap Gilang, padahal cowok itu mempunyai niat baik terhadapnya.

               Dengan membawa setumpuk perasaan bersalah, akhirnya Kasya memutuskan untuk menemui Gilang. Namun tiba-tiba sesampainya di rumah Gilang Kasya hanya bertemu dengan ibunya.
“Perkenalkan tante, nama saya Kasya . Saya temannya Gilang. Gilang ada tante ?” tanya Kasya
Namun ibunya Gilang diam, Ibunya terlihat sedih dan cemas hingga meneteskan air mata.
“maaf tante, kenapa tante menangis ? apa ada yang salah dengan pertanyaan saya. Atau jangan-jangan ada apa-apa dengan Gilang ?” Tanya Kasya lagi
“lebih baik kamu baca saja surat ini …!” jawab orang tua Gilang.
Akhirnya Kasya pun membaca lembaran kertas putih yang ditulis Gilang untuknya.

Dear Kasya,


Maaf membuatmu marah. Sepertinya aku tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu. Aku tidak bisa menghiburmu saat kamu tengah bersedih waktu itu. Tapi sungguh aku tidak bermaksud menyakiti hatimu…

Kasya , kita memang tidak memilki kemiripan dalam permasalahan kita sedikit pun. Kamu pernah cerita ke aku kalau orang yang paling kamu benci adalah Valent, seorang cowok yang pernah menyakiti hatimu. Tapi sebenarnya kamu dapat mengatasi kebencian dan permasalahan kamu akan hal itu jika kamu mau berusaha.

Tidak seperti masalahku. Kamu tahu hal apa yang paling aku benci di dunia ini ? yaitu  WAKTU. Aku benci pada waktu. Bagiku tak ada yang paling kejam di dunia ini selain waktu. Karena ia tidak memiliki toleransi kepada kita. Dan karena ia tidak memiliki rasa belas kasih kepadaku.

Aku pernah berharap dapat memutar waktu ke waktu sebelumnya , supaya aku tidak perlu dilahirkan di dunia ini. Supaya aku tidak perlu merasakan sakit yang tak dapat kutahan setiap hari. Aku juga pernah bermimpi dapat menghentikan waktu saat aku sedauung berada di dekatmu. Supaya aku bisa sejenak melupakan rasa sakit yang selama ini telah kuderita. Namun kenyataanya ia tidak sudi mengabulkan harapan dan impianku itu. Aku benci waktu , aku benci padanya.

Dan mungkin saat kau membaca goresan pena ini ini adalah goresan pena terakhirku. Serta pastinya kamu mengerti kan ? sekarang sudah pergi jauh, jauh sekali. Dan aku sekarang sudah tidak benci waktu lagi. Aku sudah tidak terikat dengan waktu karena aku sedang berada di tempat terindah bersama Tuhan untuk selamanya.Dan satu lagi, aku sangat bahagia mengenalmu meski kita tak lama kenal.

Lalu,,,, setelah aku pergi aku harap kamu masih mengingatku. Dan yang kuminta darimu hanya satu. Jadilah gadis  yang baik dan jangan hanya terikat cinta dengan orang yang menghianatimu. Cintailah orang yang selalu hadir dalam hidupmu. Serta jangan lupa mendoakanku…

Selamat tinggal Kasya , sampai jumpa di Syurga nanti


                                                Gilang Yudistira



          Air mata Kasya mengalir deras usai membaca surat itu. Hal yang tidak pernah diketahuinya selama ini.
Namun semenjak saat itu Kasya mulai berubah dan dia menuruti apa permintaan Gilang. Dan setiap saat dia ingin tidur dia selalu membuka di bawah tumpukan bantal tidurnya. Yaitu sebuah goresan terakhir dari Gilang. Itu dijadikan kenangan termanis dalam hidupnya.



            

Hari kemerdekaan adalah hari yang penuh rasa syukur dan rasa kemenangan. Teringat 68 tahun lalu para pemuda dengan senangnya merayakan hari ini. Tepat tanggal 17 Agustus naskah proklamasi telah berkumandang yang dibaca oleh presiden kita Ir. Soekarno. Nah kali ini gen22 akan share cerita singkat tentang hari kemerdekaan. Semoga cerita ini bisa sedikit menghibur para pembaca. Jika kamu memang cinta Indonesia sebaiknya Silahkan baca sampai selesai
.

Upacara Atau Pacaran ?
By. Sandy Galang Pradana



Hari kian memanas, dahaga mulai mengeringkan tenggorokanku. Tiba-tiba kulihat sosok seorang pemuda tak lain dan tidak bukan adalah sahabat sejatiku yaitu si Raka. Dia kelihatan kelelahan dan kepanasan. Baju rapi warna putih di pakainya dengan kelihatan berwibawa. Saat kulihat dia sedang duduk di sebuah kursi pinggiran jalan nampak menunggu sesuatu. Kemudian tanpa ragu aku mulai menghampirinya aku pun mulai berbincang dengannya.

“Hai Ra, kenapa kamu terlihat  kelelahan begitu trus kamu pake baju beginian mau ngapain ?” tanyaku padanya

“loe gila apa, nih tanggal berapa ?” jawab Raka dan malah balik nanya

“Tanggal 17 Agustus 2013, Waah kamu jadi petugas upacara ya.. widih keren coy pakaianmu keren” Jawabku

“Ya biasa aja kali” Sahut Raka

“Kamu kok murung gitu, kamu capek ya ?” Tanya aku sambil kutepuk bahunya

Raka pun menjawab  “bukan capek, Cuma kesel aja sama si Andini masak nggak tau apa kalau ini hari kemerdekaan. Eh dia malah ngajak ketemuan, ngajak jalan, ngajak makan, ngajak shooping.... Padahal udah tau kalau aku ini petugas upacara tapi dia malah begitu . Dan dia... ”

“dia cerewet.......”

(tiba tiba suara itu muncul dan ternyata itu adalah suara Andini si pacarnya Raka)

“ehmm... A,,,A...Andini kamu kok ada disini” tanya Raka

“Gue udah dengar apa kata loe semua,, sekarang tinggal gue ngasih pilihan kamu mau ngajak aku jalan-jalan atau kamu lebih memilih untuk upacara. Ingat,,, jauh-jauh hari kamu udah pernah janji kalau suatu saat ingin ngajak begini” Ucap si Andini

“Iya.. tapi ini kan hari kemerdekaan dan aku harus upacara, masak kamu gak ngertiin aku banget sih.. Kamu nggak tau apa kalau aku udah dipercaya dan tiga puluh menit lagi aku harus pergi ke lapangan upacara...” Jawab Raka dengan kesal

“oke,, terserah kamu aku mau pergi sendiri....” balas Andini dengan sangat marah kemudian ia langsung pergi

        Aku hanya sebagai penonton mereka bertengkar. Karena aku sendiri tak mau ikut urusan mereka. Namun dalam pikiranku berkata gila banget si cewek ini kok nggak ada pengertiannya sama sekali ya. Raka pun terlihat pasrah dan terdiam tanpa mengurusi pacarnya itu. Lalu ia berkata padaku dia akan pergi ke lapangan upacara karena saat itu udah jam 9.30 sementara upacara dimulai jam 10 pagi.

       Raka lalu berangkat dengan menaiki sepeda motor keren yang dimilikinya. Aku pun melihat wajahnya aneh sedikit terbebani. Namun aku tak terlalu mempedulikannya dan aku langsung meninggalkan tempat duduk tadi lalu langsung pulang kerumah. Karena aku kebetulan tidak mengikuti upacara bendera.

        Sesampai dirumah tiba-tiba hape ku bunyi. Dan ternyata ada telpon masuk. Yakni dari nomor hapenya Raka. Namun yang menelepon kini adalah orang tuanya. Orang tuanya mengabarkan jika Raka kecelakaan saat menuju ke lapangan upacara dan sekarang dirawat di Rumah Sakit.

      Aku pun langsung shok mendengarnya lalu langsung menuju rumah sakit itu. Terlihat disitu beberapa keluarga Raka mulai dari ayah, ibu, paman, dan neneknya ada disitu semuanya. Juga terlihat ada Andin disitu sedang menangis menyesal. Namun nampaknya Tuhan sudah tidak bisa menahan Raka agar hidup lebih lama di dunia. Dokter berkata bahwa Raka sudah tidak bisa diselamatkan lagi.  Aku langsung menangis merasakan kesedihan ini, rasanya baru beberapa jam tadi ketemu Raka. Eh sekarang dia harus kecelakaan dan nyawanya tidak terselamatkan lagi. Dan aku juga melihat tangisan orang tua serta kerabat keluarga Raka disana.

Kemudian Andini memanggilku, dan dia berkata kepadaku :

“Hari ini adalah hari paling buruk dalam hidupku, aku sangat menyesal dengan hari ini. Hari dimana aku kehilangan orang yang paling aku cintai. Mungkin Tuhan terlalu sayang kepada Raka sehingga Tuhan mengambilnya. Dan memang hari kemerdekaan ini sudah menjadi tak merdeka lagi buatku karena aku tak menganggap hari ini adalah hari kemerdekaan”

SELESAI


         Nah cerita diatas bisa buat renungan dan ingat bahwa hari kemerdekaan adalah hari dimana kita harus benar-benar menghargai hari ini. Lalu marilah untuk menjadi remaja yang cinta kepada Indonesia. Dari cerita tersebut terlihat bahwa Andini sudah tidak menganggap lagi apa itu hari merdeka. Dan akibatnya sudah terlihat sekali penyesalan yang luar biasa.