PENEMUAN CANDI TERTUA DI INONESIA DARI ABAD KE-2 MASEHI

Penemuan Candi Tertua Di Indonesia Dari Abad Ke-2 Masehi


Penemuan, Candi, Tertua, Di, Indonesia

Candi dengan luas 5 Kilometer persegi yang terletak di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang Jawa Barat ini pertama kali di temukan oleh Tim Peneliti Arkeologi Universitas Indonesia pada tahun 1984 berdasarkan laporan adanya penemuan benda-benda purbakala di sekitar gundukan-gundukan tanah di tengah-tengah sawah.

Tidak hanya itu, keberadaan candi yang berjarak 1 Km dari  Sungai Citarum ini seakan memberikan bukti Indonesia di lahirkan lewat rahim orang-orang yang berbekal berteknologi tinggi.

Kompek penemuan ini memiliki 30 situs candi dan tempat pemujaan. Beberapa candi besar yang sudah di eksvakasi adalah Candi Jiwa yang berbentuk bujur sangkar berukuran 19 X 19 meter serta Candi Blandongan yang berukuran 25,33 X 25,33 meter.   

Dari segi kualitas Candi Blandongan tidaklah utuh secara umum sebagaimana layaknya bangunan candi. Bangunan-bangunan candi ini hanya di temukan pada dasar bangunan atau bagian kaki. Candi-candi yang sebagian besar masih berada di dalam tanah ini berbentuk gundukan bukit atau berbentuk unur (bahasa sunda) ternyata candi-candi disini tidak mempunyai ukuran dan tinggi yang sama.

Candi yang di temukan di situs ini seperti Candi Jiwa, struktur bagian atasnya menunjukan bentuk seperti bunga padma (bunga teratai). Sedangkan pada bagian tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Budha. Pada candi ini tidak di temukan tangga, sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Budha di atas Bunga Teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Bentuk seperti ini adalah unik dan belum pernah di temukan di Indonesia. 

Bangunan candi ini tidak terbuat dari batu seperti pada candi-candi lainnya di Indonesia tetapi dari lempengan-lempengan batu bata yang dipanaskan hingga suhu 700 derajad celcius.

Teknologi lainnya adalah stuko atau plester berwarna putih berbahan dasar kapur yang di ambil dari Pegunungan Kapur di Karawang Selatan. Perbukitan itu masuk dalam formasi Parigi yang termasuk Batu Gamping klasik dan Batu Gamping Terumbu yang melintang dari arah barat ke timur dengan panjang 20 Km.

Bahan pembuatan dan kegunaannya pun disesuaikan dengan tujuan penggunaan. Untuk melapisi tembok, arsitek mencampur kapur dan kulit kerang. Hal ini terkait keberadaan candi yang berada di tepi pantai. Kerang dianggap sebagai bahan kuat penahan abrasi air laut. Stuko juga digunakan untuk membuat ornamen, relief, dan arca. Untuk ini, biasanya pekerja membakar kapur dengan suhu 900-1.000 derajat celsius. Sedangkan untuk memperoleh fondasi yang kuat, kapur dicampur dengan pasir, dan kerikil.

Menurut keterangan penduduk setempat kata jiwa berasal dari sifat unur (gundukan tanah yang mengandung candi) yang di anggap mempunyai "jiwa" karena beberapa kali seekor kambing yang di ikat diatasnya akan mati. Sehingga tidak ada hubungannya dengan Dewa Syiwa.

Berdasarkan Analisis Radiometri Karbon 14 pada artefak-artefak peninggalan di Candi Blandongan ini diketahui bahwa kronologi paling tua berasal dari abad ke-2 Masehi dan yang paling muda berasal dari abad ke-12. Lebih tua dari Candi Borobudur yang berasal dari abad ke-8 Masehi.

Berdasarkan absolut penanggalan diatas, pertanggalan relatif berdasarkan bentuk Paleografi tulisan beberapa Prasasti yang ditemukan di situs ini. Dengan cara Analogi dan Tipologi temeuan-temuan arkeologi lainnya seperti Gerabah, Keramik Cina, Votive Tablet, Lepa (pleister), hiasan dan arca-arca stucco dan bangunan bata sangat banyak membantu.

Akan tetapi menurut Arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung mengatakan belum semua keunggulan Komplek Batujaya bisa di ungkapkan ke permukaan, Dari 30 yang sudah di Eksvakasi sebanyak 8 situs belum di eksplorasi lebih lanjut. Bahkan dari 22 situs yang sudah tergali informasi lengkapnya belum di ketahui.

Oleh karena itu untuk kedepannya minat untuk menggali lebih dalam tentang pesona Batujaya bisa datang lebih banyak dari berbagai pihak. Salah satu yang sangat digali adalah kemungkinan adanya kanal yang mengelilingi layaknya bangunan kuno suci. Bila benar, maka akan semakin nyata bukti bahwa air, sungai dan laut adalah identitas utama masyarakat Batujaya.


Sumber: wikipedia      

0 komentar:

Posting Komentar